Menulis Sulit ?? It's Never !
artikel ini berisi tentang motivasi, tips dan petuah-petuah kepenulisan yang diawali cerita pengalaman penulis ..
“Kebiasaan Positif itu menular, begitu juga kebiasaan negatif. Bila ingin positif berkumpulah dengan orang-orang positif, bila tak ingin menjadi negatif ya jangan berkumpul dengan orang-orang negatif atau minimal dikurangi. Kebiasaan yang diulang-ulang itu akan menjadi karakter.” – Erwin Saputra ( Seniman Solatip)

Terkadang aku merasa malu dan marah pada diri sendiri, merasa cukup dengan keadaan yang biasa-biasa ini. Yaah selalu merasa cukup ketika aku masih berada di titik tengah-tengah, yang bisa dibilang tanpa prestasi yang luarbiasa namun tidak juga dengan kelewatan bodoh-menurutku kala itu.

Aku bahkan dengan santai berjalan ditengah orang berlarian, dalam hatiku berkata “ah ..sudah lah kan dibelakang masih banyak orang !” sampai aku tersadar, bahwa emang terlalu banyak manusia di muka bumi ini. Sampai aku sadar, bahwa aku sudah terlewat bodoh untuk melewatkan hari-hariku dengan sia-sia.

Ternyata di luar sana, banyak sekali manusia-manusia seumuranku bahkan jauh dibawahku yang begitu melonjak prestasinya, kreativitasnya yang sudah jutaan macam, kemanfaatanya sebagai manusiapun telah terlaksana. Aku ? ah sudahlah ... aku hanya bisa berandai-andai dengan sejuta mimpi.

Merangkai mimpi, iya emang bagus untuk sebuah awal permulaan sukses. Tapi sampai kapan mimpi itu akan tetap kurangkai, tanpa aku memulai melangkah tanpa aku mulai mencari sebuah solusi, untuk sebuah langkah awal ? Ingin jadi seorang penulis, begitulah salah satu impian yang tertulis dengan indah di buku khusus impianku.

Beribu kali aku mendengar saran-saran para penulis dalam seminarnya “kalau mau nulis ya..nulis aja ! kalau bingung mau nulis apa di paragraf pertama ya, lompat aja ke paragraf kedua begitu seterusnya-Tere Liye” oh ya, Ahmad Rifa’i Rifan juga pernah bilang “kalau mau nulis, nulislah apa-apa yang kamu ketahui secara mendalam.. Dahului dengan cerita, lalu hikmah. Tipsnya ya 1. Dalami 2. Alami (berdasarkan pengalaman) 3. Bahasakan dengan sesederhana mungkin. Itu untuk membuat tulisanmu semakin hidup.

Aku juga pernah membaca catatan di akun facebook seorang Guru Besar Prof. Imam Suprayogo, Menulis menjadi mudah ketika bukan dalam keadaan terpaksa, tetapi semata-mata mengikuti kehendak hati. Suara hati itulah yang saya tulis. Tulisan memang harus logis, karena itu dituntut menggunakan logika, nalar, atau pikiran runtut dan jelas. Akan tetapi, selama ini, saya merasakan, umpama tuntutan tersebut harus saya penuhi, maka hasilnya jangankan orang lain tertarik, saya sendiri saja, ———umpama mau membacanya, tidak bisa menikmati. Oleh karena itu, suatu tulisan agar enak dibaca, harus menggunakan bahasa hati. Dengan cara itu, menulisnya juga tidak akan sulit.” Pak Imam adalah orang yang sangat produktif (Menulis), keren banget ! cek deh Akun facebooknya.

Dalam seminarnya prof. Imam menyebut sebuah nama yang juga alumni tempat dimana, kini aku menimba Ilmu, namanya Atho Illah yang konon katanya juga produktif dalam hal kepenulisan, tanpa berfikir panjang akupun kepo-in facebooknya disana aku nemu tulisannya yang berbunyi “Banyak yang bertanya tentang bagaimana cara menulis.. Saya teringat ketika bersama mas Iwan Setiawan, (yang suka baca novel pasti tau sama mas iwan). Mas iwan waktu itu bilang gini, "kalau ingin bisa menulis, ya menulislah...,nulis apa? Ya nulis apa yang ingin ditulis.."

Jadi intinya kalau mau menulis, ya tulislah apa yang anda pikirkan... Gk perlu bagus, yang penting nulis dulu apa yang bisa ditulis. Layaknya menghafal alquran.. Ya baca terus alqurannya... Wallahu'alam”.


Yah .. memang, banyak sekali kata-kata yang begitu menginspirasi aku untuk menulis tapi entah kenapa aku enggan untuk menulis dengan rutin. Aku enggan untuk menekuni apa yang aku impikan. Ku akui itu karena aku merasa tulisanku jelek, tulisanku tidak bermanfaat untuk orang lain begitu seterusnya.

Berualang kali aku menulis dan aku post di sebuah blog milik pribadiku. Ya.. adalah 1, 2 orang yang berkomentar, 1, 2 orang yang proud tapi ketika aku mulai membacanya berulang kali, aku merasa ah... apa ini, karya yang memalukan sampai pada akhirnya aku menghapus tulisan itu. Yups .. meski aku tau, bahwa semua butuh proses.

Malam ini, entah malam keberapakali aku tersadar dari kebodohanku, tapi aku merasa aku benar-benar harus beranjak dari titik ini, titik dimana aku masih berjalan dengan santai ditengah orang berlarian. Ku awali niatan ini dengan baca “Bismillahirrohmaanirrohiim...

 Entah kenapa aku tiba-tiba teringat sebuah wawancara diawal aku mengikuti sebuah organisasi ternama di kalangan mahasiswa

“Apa motivasimu ikut organisasi ini ?”

Entah nyambung atau nggak, aku dengan polos menjawab “Aku ingin bisa bicara didepan umum mas” yahh.. jujur itulah yang aku inginkan, karena aku begitu tak bisa bicara awal itu meski aku tahu dengan pasti bahwa jawaban ini tidak pada tempatnya.

Tanpa basa-basi mas itu jawab, meskipun ia tahu bahwa jawabanku melenceng dengan pertanyaan yang ada... “Banyaklah membaca, itu kuncinya kamu bisa bicara di depan umum, baca apa saja .. Entah itu novel, koran atau apapun, bacalah ....itu akan membentuk kualitas kata-katamu, .. tapi ingat sesuaikan bacaanmu dengan apa yang akan kamu bicarakan, karena dari situlah kau akan yakin atas Kebenaran, apa yang kau bicarakan “ begitulah tutur senior yang bernama Rovic Muhammad

Dari obrolan iseng dengan temanpun, tanpa aku sadari aku mendapat setitik cahaya terang .. entah sore atau siang hari .. obrolan kecilpun dimulai, “Kamu suka baca nggak ?” “Suka .. tapi biasanya pas aku lagi baca buku, ditengah-tengah.. selalu ada perasaan yang mendorong untuk membaca yang lain yang lebih penting untuk dibaca,, dan pada akhirnya aku ga jadi baca buku, dan selalu begitu” “yaelah..mangkanya kalau baca itu harus sesuai dengan hati dan keinginan.. bacalaah... dari baca itu, kamu bisa tahu segalanya loh.. blablabla ... sia-sia kalau waktu longgarmu nggak km gunain buat baca” Eh percakapan-percakapan diatas hanya illustrasi belakaloh penggunaan bahasanya.. intinya tapi kurang lebih gitu kok .. ooh iya temen yang dicerita atas itu namanya Adib Lazwar.

Diskusi awal yang di agendakan sebuah organisasi mahasiswa ternama itu ada satu peraturan yang membuat aku tersadar, bahwa manusia bisa jadi sampah .. eitz.. jangan marah.. artinya sampah kan sesuatu yang nggak bermanfaat/atau sesuatu sisa/yang tidak berguna, kurang lebih seperti itulah ... peraturannya “Jangan jadi sampah yang bernafas, dalam forum ini” pertamakali denger kata-kata itu, responku kaget “kasar banget” perumpamaannya ..tapi kata –kata itulah yang membuat aku sadar bahwasanya jadi manusia itu memang dituntut untuk bermanfaat, bersumbangsih. Dari beberapa peristiwa, percakapan, diskusi, pertemuan-pertemuan kecil tanpa kita sadari kita menemukan cahaya-cahaya kehidupan. Dari situlah awal, aku mulai suka membaca... oh ya.. untuk yang membacakan aturan itu dalam forum, aku tak begitu mengenal suaranya dan tak sengaja aku nggak membawa kacamata waktu itu, otomatis gatau siapa dia, orang berjasa itu..

Dari membaca aku mendapat nasihat dari tokoh luar yang terkenal yaitu Oprah Winfrey “Ketika anda berhenti belajar, Anda berhenti tumbuh, dan tanpa sadar anda memberitahu semesta bahwa anda sudah selesai- tidak ada yang baru bagi anda. Jadi, mengapa anda harus tetap berada disini ?” dan masih banyak lagi kata motivasi yang aku dapat dari membaca. Disini aku hanya ingin menceritakan sebuah perasaan yang sedang menggelora dihati. oh iya kata pak Imam dalam seminar yang baru kemarin di isi, itu Kualitas manusia bisa dilihat dari Apa bacaanya, dan siapa kumpulannya. Kutipan diawal tadi sengaja aku taruh diawal karena, pergaulan secara tidak langsung sangat mempengaruhi pribadi kita. Untuk mengawali perubahan ada 2 pilihan :

1. Lakukan ( meskipun dalam kita memulai pasti ada 2 kemungkinan, yaitu sukses atau gagal)
2. Tidak melakukan ( disini kau hanya punya 1 kemungkinan GAGAL)

Tapi aku percaya “Hasil tidak akan mengkhianati Proses”. Pernah baca entah denger, dari siapa buku apa .. maaf, lupa.. “Jangan egois, jangan seenaknya sendiri , kamu hidup tidak untuk dirimu sendiri, kamu dituntut untuk memberi manfaat untuk sekitarmu”. Terimakasih pada semua yang bersangkutan dan yang tersebut diatas, dan masih banyak lagi yang begitu memotivasi, memberiku pencerahan yang tidak tersebut diatas..

Lets Go to Write, NOW !

Loading...
Loading...
Artikel ini di tulis oleh Cintia Dwi Afifa kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Artikel Terkait