Indonesia Masa Kini !!!!! - Vebma.com
Indonesia Masa Kini !!!!!
Benarkah Pancasila mampu menciptakan hidup dan kehidupan yang damai sejahtera? Bukankah sejak Pancasila diperkenalkan sebagai dasar falsafah negara, sesuai dengan pengajuan Ir. Soekarno dalam pidatonya pada hari terakhir sidang pertama BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, kondisi bangsa Indonesia seolah-olah seperti menderita ‘sakit’ yang berkepanjangan? Akibatnya pamor Pancasila sebagai dasar negara menjadi semakin meredup dan cenderung dilupakan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Benarkah Pancasila mampu menciptakan hidup dan kehidupan yang damai sejahtera? Bukankah sejak Pancasila diperkenalkan sebagai dasar falsafah negara, sesuai dengan pengajuan Ir. Soekarno dalam pidatonya pada hari terakhir sidang pertama BPUPKI tanggal 1 Juni 1945, kondisi bangsa Indonesia seolah-olah seperti menderita ‘sakit’ yang berkepanjangan? Akibatnya pamor Pancasila sebagai dasar negara menjadi semakin meredup dan cenderung dilupakan oleh sebagian masyarakat Indonesia.

Menurunnya pamor Pancasila ini, tidak lepas dari para oknum yang mengaku dirinya sebagai aparatur negara, namun tindakannya justru berseberangan dengan nilai-nilai Pancasila. Negeri yang dikenal gemah ripah lohjinawi toto titi tentrem kerto raharjo, ironisnya menjadi ladang yang subur bagi para koruptor sejak zaman orde lama maupun hingga saat ini.

Apakah nilai-nilai Pancasila sebagai dasar negara yang mengatur setiap pemikiran, perkataan dan tingkah laku segenap warga negara Indonesia mengajarkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai moralitas? Bukankah istilah “sila” pada Pancasila, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai pengertian; aturan yang melatarbelakangi perilaku seseorang atau bangsa; kelakuan atau perbuatan yang menurut adab (sopan santun); dasar; adab; akhlak dan moral?

Ibarat sebuah pohon yang memiliki akar, batang dan buah. Secara prinsip buah yang baik pasti dihasilkan dari pohon yang memiliki akar dan batang yang baik. Demikian juga, batang yang baik dihasilkan dari akar yang baik. Apabila buah yang dimaksud merupakan cerminan dari kondisi Republik Indonesia, batang adalah simbolisasi dari perilaku yang ditunjukan segenap warga negara dan akar adalah simbolisasi dari Pancasila sebagai dasar ideologi negara. Artinya untuk menciptakan bangsa Indonesia yang damai sejahtera dapat dilakukan dengan cara melakukan perawatan secara khusus dan intensif terhadap Pancasila.

Lunturnya kepercayaan masyarakat pada nilai-nilai Pancasila, sebagai dampak dari penyelewengan para oknum menjadi tantangan dalam proses pembudayaan Pancasila. Berdasarkan data yang diperoleh dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), menyatakan bahwa 86 persen mahasiswa di lima perguruan tinggi terkemuka di pulau Jawa menolak Pancasila. Memang hasil survei itu tidak bisa digeneralisasi sebagai suara seluruh masyarakat Indonesia, namun setidaknya hasil tersebut bisa menjadi alarm bahwa jangan sampai bangsa ini bagaikan kacang yang lupa akan kulitnya.

Diskursus tentang relasi agama dan negara dalam Islam adalah wacana yang sangat krusial, dan telah lama memancing debat dan sengketa intelektual, baik dalam pemikiran keislaman klasik maupun dalam kajian politik Islam kontemporer. Di sejumlah negara yang mayoritas muslim, perdebatan ini tidak saja mengundang konflik antarumat Islam, melainkan juga menjadi prahara bagi Negara tersebut. Konteks relasi agama dan negara di Indonesia telah melewati aneka masa, beragam generasi, bermacam langgam rezim politik negara; mulai dari masa pergerakan nasional dan perjuangan kemerdekaan di era penjajahan, Orde Lama, Orde Baru, hingga Orde Reformasi. 

Hasil akhir dan keputusan final dari perdebatan panjang di antara para founding fathers negeri ini adalah disepakatinya bentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dengan pertimbangan pluralitas agama, ras etnis dan kultur yang dibingkai dalam “Bhinneka Tunggal Ika”. NKRI dengan Pancasila sebagai dasar negara, telah menjadi pemandu bagi sejarah panjang perjalanan bangsa Indonesia, dalam proses sosial, ekonomi, agama, budaya, dan politik. 

Dalam sejarah perjalanan panjang bangsa Indonesia, telah muncul berbagai gerakan yang berupaya untuk mengganti bentuk dan dasar negara, yang dipandang tidak islami. Upaya-upaya yang dilakukan oleh gerakan lokal yang dimotori DI/TII dengan ideolog NII dan kelompok-kelompok lainnya, berupaya untuk mengubah negara ini menjadi Negara Islam. Berbagai kasus kekerasan terhadap kelompok minoritas, kasus bom buku dan  penemuan bom di berbagai tempat, aksi bom bunuh diri,  pengeboman sejumlah tempat ibadah dan yang lebih hebatnya bergai isu sara muncul pada tahun 2016 yang lalu , ini menunjukkan bahwa eksistensi NKRI hingga kini terus menghadapi tantangan dan ancaman. Bahkan dalam dua dasawarsa terakhir, muncul sejumlah gerakan transnasional yang secara ideologis maupun politis dapat mengancam eksistensi NKRI, karena ingin menjadikan negara ini sebagai bagian dari konsepsi sistem kekhilafahan universal. Referensi historis berupa Piagam Madinah selama ini digunakan sebagai legitimasi bagi dasar pendirian Negara Islam, padahal Piagam Madinah merupakan nota kesepahaman antara nabi SAW dengan para penduduk Madinah untuk hidup berdampingan secara damai. Demikian juga sistem kekhilafahan (yang sebenarnya adalah dinasti) dalam sejarah politik Islam pasca khalifah rasyidah, juga menjadi referensi bagi kelompok ini untuk mewujudkan kembali sistem tersebut.

Tidak hanya bentuk negara, Pancasila sebagai dasar Negara Indonesia, juga “digugat” banyak kalangan sebagai tidak islami. Pancasila sesungguhnya telah mencakup dan mengakomodir nilai-nilai universal yang diperjuangkan Islam. Di tengah ambisi kuat kalangan modernis dan transnasionalis memimpikan 'negara Islam', 'daulah Islamiyah' atau 'khilafah Islamiyah' tersebut, maka diperlukan upaya-upaya yang dapat mengokohkan jati diri kita sebagai bagian tak terpisahkan dari negara bangsa Indonesia dalam wadah NKRI. Nasionalisme, Pancasila dan NKRI adalah pilihan politik cerdas yang final dan tidak bisa ditawar dengan kompensasi apapun. Karena itu, segala upaya yang dapat mengancam persatuan dan kesatuan nasional serta eksistensi negara ini, juga harus “dilawan” secara bersama-sama.

Selain itu, proses pembudayaan Pancasila sebagai ideologi bangsa, juga mendapatkan tantangan yang besar dari masyarakat Indonesia yang religius. Mengapa Pancasila yang menjadi landasan negara? Lalu bagaimana dengan kemurnian ajaran agama? Menanggapi pandangan ini, Bung Yamin mengemukakan penyataan bahwa Pancasila bukan agama baru, Pancasila adalah weltanschauung, falsafah Negara Republik Indonesia. Pancasila dan agama mempunyai fungsi dan peran yang berbeda dalam negara Pancasila. Tetapi, kiranya tidak ada orang yang bisa menempatkan Pancasila dan agama dalam posisi yang berlawanan, karena keduanya memang tidak kontradiksi satu sama lain

Pembudayaan Pancasila merupakan proses menghidupkan nilai-nilai Pancasila menjadi suatu gaya hidup, artinya dalam kehidupan keseharian dapat ditemukan dengan mudah nilai-nilai Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam pemusyawaratan/perwakilan dan Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Seperti pohon yang tumbuh subur, yang buahnya begitu ranum dan mudah untuk dipetik.

Banyak metode yang dapat digunakan untuk melaksanakan pembudayaan Pancasila. Namun dalam penerapannya harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi dari daerah atau wilayah yang bersangkutan. Mengingat Indonesia mempunyai beraneka ragam suku, bahasa dan budaya.

Ideologi itu tidak pernah mati, yang terjadi adalah kemunculan, kemunduran dan kebangkitan kembali suatu ideologi.

Artikel ini ditulis oleh Adhitia Petervik Barcelonista kamu juga bisa menulis karyamu di Vebma, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya. Daftar Sekarang!
Loading...