Resensi Novel : I For You Bab 1 - Vebma.com
Resensi Novel : I For You Bab 1
Resensi Novel I For You Bab 1

Sebuah Audi A6 putih mengilap berbelok anggun ke pelataran parkir SMA Pelita Kita dan berhenti tepat disamping pos satpam. Seorang anak laki-laki berusia tujuh belas tahun berbadan tegap dan berwajah tampan keluar dari pintu pengemudi. Ia bergegas membukakan pintu untuk anak perempuan cantic bermata hazel yang tadi duduk di sampingnya.

Beberapa anak yang berjalan di koridor menatap mereka dengan kagum. Cessa dan Benji merupakan pasangan paling fenomenal di sekolah ini. Cessa adalah anak seorang direktur perusahaan tekstil ternama yang memiliki beberapa cabang di luar negeri. Darah Prancis yang mengaliri tubuhnya membuat ia seperti boneka: matanya hazel, rambutnya cokelat, tubuhnya tinggi dan langsing, kulitnya pun putih mulus walaupun tampak pucat. Sementara itu, Benji adalah anak pemilik perusahaan kelapa sawit, sahabat ayah Cessa. Ayahnya yang berkebangsaan Amerika membuatnya memiliki fitur mirip dengan Cessa, hanya saja matanya hitam, mengikuti matai bunya yang orang jawa asli.

Tak berapa lama, Cessa dan Benji sampai di kelas baru mereka XII IPA 2. Benji membuka pintu kelas dan membiarkan Cessa masuk terlebih dahulu. Tindakannya itu kembali membuat semua anak perempuan menahan pekikan. Menyadarinya, Benji tetap menahan pintu. Anak-anak perempuan itu pun segera masuk sambil bersemu-semu, beberapa murid kelas lain malah terhipnotis ikut masuk.

Suasana kelas yang tadinya riuh rendah khas situasi awal masuk sekolah, segera senyap saat Cessa melangkah lebih jauh ke dalam kelas. Semua orang sibuk berbisik, menentukan apak sekelas dengan Cessa merupakan anugrah atau malah bencana. Anugerah karena ia begitu cantik dan memiliki pangeran super ganteng bernama Benji, atau bencana karena ia begitu sombong hingga tak pernah repot-repot untuk bicara selain kepada pangerannya itu.

Cessa melirik Benji yang sudah berjalan tenang ke bangku yang terletak di samping jendela. Cessa segera menatapnya penuh rasa iri sementara Benji hanya nyengir bersalah, tetapi tidak bisa berbuat apa pun. Walaupun sama-sama tak mengerti mengapa tahun ini bangku mereka tak berdekatan, masalah penentuan bangku adalah peraturan sekolah yang tidak bisa di ganggu gugat.

Pandangan Cessa lantas beralih pada ransel yang terbuka dan terisi buku-buku tebal lainnya. Ujung-ujung ransel itu sobek karena beban yang dibawanya. Ingatan Cessa terbang pada kenangan yang tak ingin diingatnya. Cessa bahkan bergeming saat bel tanda masuk sekolah berdering nyaring.

Surya merasakan dahinya berkedut. Ia memang sudah lama mendengar tentang Princessa dan segala sifat ketuanputriannya. Namun, baru kali ini ia berkonfrontasi langsung. Sekarang, ia jadi percaya pada semua kabar burung itu.

Cessa menatap surya selama beberapa saat sebelum akhirnya duduk, lalu melempar pandangan kepada Benji yang hanya mengedikkan bahu. Selama tujuh belas tahun hidupnya, hanya satu kenyataan yang Cessa ketahui soal orang miskin.

Mereka tak berguna.

Artikel ini ditulis oleh Flora Kim kamu juga bisa menulis karyamu di Vebma, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya. Daftar Sekarang!
Loading...
close