Cerpen : Dari Aku yang Tak Ingin Memesan Apa-apa
Apakah dengan kita tak memesan apa-apa jika mendatangi sebuah kafe/kedai adalah sebuah kekeliruan? Bisa saja kita hanya ingin datang, duduk, dan diam. Toh, kafe/kedai tersebut memang sepi. Selamat menikmati suguhan cerpen dari saya.

Foto : Pinterest

Seusai hujan malam-malam. Genangan air yang terus bercipratan digilas roda dua dan empat. Bum, sedang duduk santai di warkop yang agak mahal dari biasanya. Isi tasnya selalu ada satu sampai dua buku bacaan. Ia hampir jarang disibukkan dengan alat elektronik genggam yang di zaman ini sedang gemarnya disembah orang-orang ; melebihi Tuhan.

Ia duduk santai sambil membaca buku, di atas mejanya hanya ada asbak dan rokok yang mengasap. Dua jam lamanya sudah ia duduk dan tak memesan apa-apa. Lantas membuat dua penjaga warkop di sana mengernyitkan dahi. Lalu salah satu dari mereka mendatangi Bum dengan membawa buku menu.

“Maaf mas, ini menunya. Silakan dipesan.” Sambil menyodorkan buku menu dengan raut wajah kesal.

Bum yang syahdu dengan bukunya itu lantas heran melihat buku menu yang usang dan raut wajah yang juga usang tiba-tiba dihadapannya. “Oh iya mas, sebentar lagi saya ingin pulang. Saya tak ingin memesan apa-apa.” Dengan nada sopan Bum menanggapi penjaga warkop itu.

Sedikit gugup dan nada yang gemetar si penjaga menegaskan, “tapi masnya sudah dua jam lebih di sini dan tidak memesan apa-apa.”

Bum segera menutup buku yang sedang dibacanya. Pernyataan penjaga warkop tadi membuat Bum heran sekaligus menggelakkan tawa. Suasana di warkop kebetulan sangat sepi. Tak ada pengunjung lagi selain dirinya pada saat itu. Sebelum pada akhirnya memaksa Bum untuk bertanya.

“Kalau saya tak memesan apa-apa, apakah saya tak boleh berlama-lama duduk di sini?”

Penjaga warkop itu dibuat bingung dengan pertanyaan yang keluar begitu saja dari Bum. Ia hanya diam terheran-heran.

“Begini mas, saya mudahkan lagi. Kalau saya ke sini, apakah saya harus memesan sesuatu?”

Penjaga warkop segera menjawab, “Lah, iya mas. Soalnya mas ke warkop kan pasti ingin minum kopi.”

“Hahahaha … masnya ini aneh, lucu! Sumpah!” Sambil menghisap rokok, Bum tertawa santai.

Penjaga warkop pun semakin dibuat kesal dan kali ini bertanya dengan tegas.

“Mas … sekarang saya tanya, masnya jadi pesan atau tidak?”

“Sudah saya bilang toh, sebentar lagi saya ingin pulang, jadinya saya tak ingin memesan apapun.”

“Lalu buat apa masnya ke sini?”

“Ooo, tidak boleh ya saya ke sini?”

“Ya … tentu boleh.”

“Lalu apa masalahnya dengan saya yang tak ingin memesan apa-apa?”

“Ya … tak ada masalah apa-apa sih mas.”

“Lah terus? Kenapa dialog kita jadi ribet begini?”

” …. ”

Penjaga warkop itu berlalu pergi meninggalkan meja. Ia tampak menyerah dengan pertanyaan-pertanyaan tadi. Bum juga merapikan barang-barangnya untuk segera beranjak dari warkop tersebut. Bum pergi begitu saja. Penjaga warkop kesal dengan tingkah Bum yang tak memesan apa-apa tapi menyisakan kotoran abu dan puntung rokok pada asbak di atas meja.

Di saat mereka sibuk ngedumel sambil membersihkan meja, mereka mendapati sebuah surat yang dilipat dan di dalamnya diselipkan beberapa lembar uang di bawah asbak. Dibukalah surat tersebut. Berikut isi suratnya :

“Kursi kalian reyot! Kalau tak sanggup memperbaiki kursi, buatlah lesehan saja! Kalau boleh saran, besok-besok dibuatkan tulisan himbauan bagi para pengunjung, kalau ke sini wajib pesan kopi.”

Terima kasih atas asbaknya. Semoga uangnya cukup untuk membeli paku.

–Dari aku yang tak ingin memesan apa-apa

Setelah membaca surat itu, mereka saling bertatapan. Tak ada kata apapun yang ingin ditanggapi dari isi surat tersebut. Mungkin karena bingung. Mungkin karena malu.

***

(Yogyakarta, 18 Maret 2018)

Artikel ini di tulis oleh M Nata kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang
Loading...
loading...

Artikel Terkait

close