CERPEN: Tradisi Penghalang Restu
Nyatanya, saling mencintai pun tak cukup untuk menyatukan dua insan yang hatinya saling tertambat.

Aku terdiam dengan mata terpejam. Menyusup ke dalam lorong mesin waktu yang membawa anganku pada masa lalu. Saat itu bibirku kelu dan tak mampu untuk berucap sesyair kata pun. Aku tertegun dengan segala janji yang mengalun indah menelusuri lubuk kalbu dalam suasana sendu. Janji yang telah terungkap oleh sebutir bibir dan disaksikan oleh sepasang mata sayu karena air mata.

“Akan kupenuhi janjiku, secepatnya,” ungkapnya

Aku hanya mengangguk pelan. Mataku menatap bumi di mana terdapat dua pasang kaki yang berpijak di atasnya. Air mataku terjatuh kembali. Menetes hingga membasahi jari. Jari yang digenggamnya. Mungkin dia mengerti akan air mataku yang berkata bahwa kesedihan telah menghampiri nadiku dan mengalir di dalam darahku atas apa yang terjadi. Aku terdiam, begitupun dengannya. Tak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulut kami berdua setelah kalimat tersebut menusuk jantungku. Entah, kalimat yang memang akan dibuktikannya atau hanya untuk menenangkan keadaan yang semakin menjadi.

“Kenapa terdiam. Tiadakah yang akan Kau ucap untukku?”

Akhirnya bibir itu terbuka juga, mencoba meredamkan api yang kian berkobar di atas kepala kami berdua. Aku terus terdiam tak kuasa untuk menatap matanya. Bukan karena tak ada yang akan kuucapkan, melainkan karena terlalu banyak syair yang ingin kulantunkan di hadapannya sehingga aku sendiri bingung harus memulai dari mana. Bibirnya kembali tertutup. Senja kali ini sunyi. Hanya desiran angin yang menggerakkan rambut teruraiku yang dapat kami dengar, walaupun sangat lirih.

“Vin!” Aku memberanikan diri untuk memulai rangkaian kata yang akan ku ucap.

“Ya?”

Seperti biasa. Tak tahu kenapa hatiku selalu bergetar jika mendengar suara lembut darinya. Hal itu sudah dapat kurasakan semenjak pertama kali mendengar suaranya. Aneh, semua terasa aneh. Namun, keanehan yang kurasakan kian lama kian menjadi terbiasa. Ya, terbiasa karena adanya rasa rindu.

“Tak taukah Engkau bahwa hati yang telah menjadi serpihan tak akan dapat kembali seperti semula?”

“Aku akan berusaha untuk mengembalikan semuanya Na. Untukku, untukmu, untuk kita berdua. Setiap malam pun aku tak henti berdoa agar Allah membukakan hati orang tuaku. Kaupun juga harus begitu. Berdoalah.. Doakan aku Na.”

Aku kembali hening dengan nafas sedikit tersengal. Air mataku semakin deras. Jatuh seiringan dengan hati yang sedikit rapuh. Terkadang aku berpikir, begitu menyayatnya takdir yang telah diberikan-Nya untukku. Namun, secepat mungkin ku buang pemikiran seperti itu. Aku percaya, semakin Allah menyayangi hamba-Nya maka akan semakin berat cobaan yang diberikan. Dan selalu ku ingat juga bahwa Allah tidak akan memberi cobaan di luar batas kemampuan hamba-Nya.

Goresan menguning di atas langit lepas mulai terlukis. Bergaris membentuk beberapa lengkungan yang tertata rapi. Sungguh indah. Itulah lukisan yang sebenarnya. Lukisan tangan-Nya yang tiada tertandingi oleh keindahan lukisan manapun buatan manusia. Itulah lukisan abadi. Lukisan yang tak akan pernah kikis walau berganti masa. Senja kali ini sangat indah. Tak pernah ku temui keindahan senja seperti ini sebelumnya. Senja yang menawan. Keindahan senja yang tetap ada meski tertutup oleh air mata.

 “Allahu Akbar... Allahu Akbar....!!!”

“Sudah magrib Vin. Aku pulang dulu,” kataku masih dalam keadaan tertunduk. Meninggalkannya yang semakin pasrah akan keadaan.

Dua tahun lamanya aku mencintainya. Dua tahun hatiku selalu tersentuh ketika memandanganya. Dua tahun selalu kurasakan kesejukan ketika aku mendengar suaranya. Tak mungkin aku menghapusnya begitu saja. Aku tak sanggup. Aku melangkah menelusuri setapak jalan yang dipenuhi oleh dedaunan kering. Mataku tertuju pada sebuah daun yang baru saja jatuh dihempas oleh angin. Benakku bertanya, ikhlaskah sang pohon melepas daun yang terhempas angin yang tak akan pernah kembali padanya? Tentu saja. Karena sang pohon masih memiliki banyak daun yang menemani. Tak bisa kusamakan dengan hatiku yang hingga kini belum ikhlas menerima kehendak-Nya. Sulit.. Sangat sulit.

Langkahku semakin pelan di antara lalu lalang insan di jalanan. Iqamah terdengar dari masjid yang baru saja ku tinggalkan. Rumahku masih sekitar 15 menit bila ditempuh dengan jejak kaki. Aku tersadar bahwa aku belum melaksanakan tugasku sebagai umat muslim di waktu senja. Langkahku berbelok. Menuju sebuah bangunan kecil yang biasa disebut langgar oleh orang-orang Jawa.

Tiga rokaat telah ku penuhi. Aku duduk di serambi mushola memandangi jalan raya yang semakin malam semakin ramai. Namun, keramaian tak mampu membuatku terlepas dari jeratan siksa rasa yang telah merampas senyumku.

...

 

“Tak mungkin aku menyakiti perempuan yang aku cintai, Bu. Aku hanya ingin mendapat restu dari Ibu,” kataku menahan air mata di hadapan wanita paruh baya yang sudah membesarkanku, mendidikku dan menyayangiku selama ini. Hanya ibu yang ku miliki saat ini setelah ayah dipanggil kepangkuan-Nya saat aku masih kecil.

“Alvin, Kamu lebih memilih menyakiti ibumu ini?” gumamnya menghadapku. Ibuku merupakan seorang yang berpendirian teguh. Yang sudah menjadi prinsipnya tidak akan diingkari. Aku sangat tau sifat ibuku.

“Iya tapi apa masalahnya, Bu?” Aku meminta penjelasan.

“Desa tempat Nina tinggal mengarah ke utara dari desa kita, Vin. Itu sangat pamali dalam catatan tradisi desa kita, bahkan orang Jawa. Jika hubunganmu berlanjut hingga pernikahan, hanya kesengsaraan yang kamu dapat. Kamu akan sulit mencari rezeki.”

“Itu hanya sugesti, Bu. Semakin Ibu mempercayainya, maka semakin besar kemungkinan hal tersebut akan terjadi. Aku tak percaya hal seperti itu, Bu.” Aku mencoba meyakinkan ibu

“Itu bukan sugesti, Vin. Hal itu sudah pernah terjadi pada keluarga kita, pada ayahmu. Maaf. Ibu belum sempat menceritakanmu tentang ini dan sekarang akan ibu ceritakan semua. Ibu hanya tidak mau Kau bernasib sama seperti ayahmu,” Ibu tak memandangku. Air matanya menetes. Aku semakin kebingungan. Hal pernah terjadi pada ayah? Hal apa?

Ibu menghela nafas sejenak, matanya berkaca-kaca. Bibirnya masih bungkam. Namun, aku tau bahwa ibu ingin sekali mengatakan sesuatu. Terlihat berat bibir ibu untuk terbuka. Aku menyimak penuh rasa penasaran.

“Sebelum menikah dengan ibu, ayahmu pernah menikah dengan wanita lain. Permasalahannya sama denganmu. Nenekmu melarang, namun ayahmu tetap bersikukuh dengan pendiriannya. Mungkin ayahmu terlalu mencintai wanita itu. Pada akhirnya, ayahmu menikah. Satu, dua hingga tiga bulan mereka masih hidup bahagia. Menginjak setengah tahun apa yang ditakutkan nenekmu semakin terlihat. Kehidupan ayahmu dan istri pertamanya semakin sulit. Sudah berkali-kali ayahmu gagal panen. Pada awalnya ayahmu menganggap itu adalah murni kehendak Allah, namun nenekmu tidak. Nenekmu menyuruh agar ayahmu berpisah dengan istri pertamanya. Ayahmu tidak mau meskipun pada akhirnya mereka bercerai juga. Beberapa hari setelah perceraian, nenekmu meninggal. Setahun kemudian ayahmu bertemu dengan ibu. Lagi-lagi permasalahannya sama, namun pada saat pernikahan, ibu sama sekali tidak mengetahui tentang tradisi itu. Nenekmu juga sudah tidak ada sehingga tidak ada yang memperingatkan ayahmu.”

Ibu terdiam sejenak. Dengan memberanikan diri aku bertanya, “Jadi Ibu dan ayah menentang tradisi itu? Lalu apa yang terjadi, Bu?”

“Ayahmu yang menentang. Ibu tidak tahu tentang tradisi itu. Setelah kamu lahir, ayahmu jadi sakit-sakitan. Ibu tidak menghitung berapa banyak harta ayahmu yang terkuras demi menebus kesehatannya kembali. Dan puncak dari kejadian itu, ayahmu meninggal. Ibu baru tahu tradisi itu saat ayahmu sudah tiada.”

Tangis ibu semakin menjadi. Aku menundukkan kepala tidak berani menatap wajah ibu.

“Ibu percaya, Vin. Ibu percaya bahwa jodoh, maut dan rejeki sudah diatur oleh Allah. Ibu hanya takut. Ibu takut kehilangan kamu. Anak ibu cuma satu.”

Ibu membawa air matanya pergi meninggalkanku sendiri yang duduk tak berdaya hingga aku tak bisa merasakan apapun dalam hatiku. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Aku tak tahu kalimat apa yang akan ku lontarkan selanjutnya. Yang taku tahu aku sangat mencintai ibu. Aku tak ingin kehilangan ibu, juga Ninaku.

...

 

“Maafkan aku Nina. Maafkan aku telah mengingkari janjiku. Aku siap jika kau membenciku seumur hidupmu.” Kalimat tersebut menusukku begitu tajam, melebihi pisau, melebihi jarum. Sakit yang menerpa hati melebihi sakit apapun yang pernah ku rasakan.

“Aku tidak akan pernah membencimu, Vin. Aku tetap mencintaimu. Terima kasih, Vin.”

“Aku sudah menyakitimu, Na. Mengapa kau berterima kasih?”

“Terima kasih. Kau menyadarkanku, bahwa saling mencintai pun tidak cukup untuk menyatukan dua hati. Terima kasih telah mengajariku tentang keikhlasan selama dua tahun ini. Salam untuk ibumu.” Aku melangkah pergi. Meninggalkannya. Tanpa menoleh ke belakang. Sekalipun.

 


Kediri, 14 September 2015

Artikel ini di tulis oleh Ayudyah Diwanti kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang
Loading...

Artikel Terkait

close