close
Ending-Prolog : Catatan Hati Seorang Wanita Menjelang Pernikahan
Hidangan penutup yang menghantarkan diri ke hidangan selanjutnya

Tidak ada wanita yang tidak berdebar-debar menjelang hari pernikahannya. Meskipun nanti, kala tiba waktunya, dia tidak sehurufpun bersuara. Meskipun ia tidak perlu menjabat tangan siapapun saat prosesi itu berlangsung. Namun debaran di jantungnya, tidak kalah hebat dengan apa yang dirasakan (mungkin) oleh calon mempelai pria.

 

Debaran itu sesungguhnya bukan semata-mata karena gugup, karena canggung, atau karena malu. Banyak hal yang berkecamuk di dalam pikiran seorang wanita menjelang hari bahagianya. Siapa bilang itu hanyalah rasa bahagia yang meletup-letup. Mungkin iya, siapa sih yang tidak berbahagia menjelang detik-detik digenapkannya jiwanya oleh seseorang? Tapi bukan hanya itu. Banyak hal lain yang lebih dalam dan rumit daripada sekedar berbahagia.

 


Entah bagaimana harus dijelaskan detail dari debaran-debaran itu. Yang pasti, ketika hari demi hari berlalu, bukannya semakin terbiasa, ia justeru semakin keras terasa. Bahkan yang semula terasa ringan, yang semula terasa yakin, yang semula terasa optimis untuk diarungi, mendadak berubah 180 derajat.

 

Timbul prasangka akankah diri yang rapuh ini mampu mengarungi hidup bersama pria asing yang mungkin tidak memiliki hati seluas yang dimiliki Ayah dan Ibunya. Mampukah diri ini beradaptasi dengan lingkungan yang baru? Mampukah diri ini mengatasi persoalan-persoalan rumah tangga yang jelas menerpa. Mampukah jiwa yang labil ini mengatasi rasa bosan yang mungkin akan terasa?

 

Mungkin beberapa wanita merasa sangat bahagia menjelang hari pernikahannya. Sibuk memilih pernak-pernik pesta. Namun beberapa di antaranya mungkin merasakan hal yang jauh bertolak belakang dengan definisi bahagia. Bukan berarti sedih. Perasaan ini adalah perasaan takut dan ragu akan kemampuan dan kapabilitas diri sebagai seorang wanita dewasa yang siap menikah.

 


Ah,, ketika aku berada dalam kelompok wanita yang dilingkupi rasa takut menjelang pernikahan, mungkin sebenarnya ketakutan itu tidak beralasan. Karena kenyataannya, separuh imanku adalah kamu, seseorang yang amat mengerti, sabar, membimbing, dan menuntun. Meskipun mungkin dirimu sendiri diliputi rasa ragu, meskipun mungkin dirimu juga takut, meskipun dirimu melihat banyak titik kelemahan pada diri ini. Nyatanya kamu tetap melangkah maju, memberikan aku rasa percaya, bahwa berdua akan terasa lebih menyenangkan.

 

Akupun mengingat, bahwa dirimulah satu-satunya orang yang datang tanpa kupinta. Sosok yang kembali saat telah kuikhlaskan. Kamu yang akan menjadi milikku tanpa perjuangan yang berarti. Memang kamu, nama yang telah Tuhan bisikkan lewat segala proses pendekatan kita yang terbilang mudah.

 

Dan kau adalah sosok yang harus kusyukuri. Dimana kamu adalah jawaban dari malam-malamku yang sepi. Jawaban dari hampanya hati yang hampir tak percaya apa itu cinta. Serta sarana pembungkam mulut-mulut mereka yang tidak lelah mengkritik tentang status single yang pernah lama ku alami.

 

Inilah akhir dari pencarian cinta yang sama-sama kita jalani. Alasan dari berkali-kali patah hati yang kualami. Jawaban dari sikapmu yang semula selalu enggan memantapkan hati. Namun jangan sampai kita terlena dan berhenti berusaha. Karena upacara sacral kita nanti adalah sebuah prolog dalam kehidupan kita yang sebenarnya sebagai manusia dewasa. Masih jauh lebih banyak tantangan yang akan kita rasakan di babak selanjutnya.

 

Dan berjanjilah, bahwa kau akan tetap memegang erat tanganku. Memeluk rasa takutku. Mendekap erat hati ini dalam keadaan apapun, sampai rambut ini memutih, sampai gigi ini terlepas satu persatu, sampai wajahku keriput, sampai denyut nadi salah satu dari kita terhenti. Pastikan pula kita saling menunggu dipersatukan kembali oleh Tuhan di alam yang lebih kekal.

 

Artikel ini di tulis oleh Reva Rindi Antika kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang
Loading...

Artikel Terkait