close
Kapan Nikah?
Tentang seorang gadis yang dikejar-kejar pertanyaan "kapan nikah?"


Ah, sudah lama rasanya gak ngomong ngelantur sana-sini. Maklum, mahasiswa semester tua. 

Ngomongin ‘tua’ nih ya, aku jadi kepikiran pertanyaan-pertanyaan yang kerap kali dilontarkan pada golongan kami -dan mungkin kalian juga- yang sudah menginjak usia dewasa. Yaps, benar sekali. KAPAN NIKAH? Entah kenapa pertanyaan itu seperti nyamuk yang bunyinya sahut-sahutan seperti nyamuk di rumah nenekku. Meskipun bunyi itu dari nyamuk-nyamuk yang berbeda, tapi suaranya tetap aja sama. Ngiiiingngngng.

Aku hanya heran saja. Kenapa orang-orang nanya ‘kapan nikah’ kayak nanya kapan makan. Okelah, kalau makan untuk kebutuhan tubuh sedangkan nikah untuk kebutuhan hati. Tapi nikah itu tidak semudah memenuhi perut.

Yang awalnya gak kepikiran tentang nikah, gara-gara pertanyaan-pertanyaan itu jadi galau kenapa gak ada yang datang ke rumah. Iya gak guys?

Aku tidak pernah mengingkari kalau nikah memang untuk menyempurnakan agama. Yakin 100% malahan. Tambahin jadi 200% deh. Tapi mbok ya jangan kayak lomba lari gitu. Cepet-cepetan sampi garis finish berupa pelaminan. Yang sampai duluan teriak. ‘ye ye ye. Aku udah sampai nih. Kamu kapan nyusul?’Akhirnya para ladies yang jomblo bakal mikir seharian, takut berakhir jadi perawan tua.

Ayolah ikhwati… Nikah itu bukan tentang siapa yang duluan ditemukan tulang rusuknya, atau duluan ditemukan calon tulang rusuknya atau mungkin duluan ditemukan calon yang diharapkan menjadi tulang rusuknya. Nikah juga bukan hanya untuk menghalalkan pegang-pegangan, ciuman dkk, tapi ini juga tentang sejatinya kita diciptakan. Bukannya sok-sokan, tapi bukankah manusia di utus ke bumi untuk menjadi khalifah? Tugas kita menjaga bumi, bukan malah memporak porandakan dan mengotorinya dengan perbuatan yang tidak seharusnya dilakukan. Sekedar mengingatkan, bayi itu lahirnya suci. Hitam, putih, hijau, kuning, merahnya seorang anak tergantung orang tuanya. Dan seorang perempuan adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jika apa yang dilakukan bayi yang sudah dewasa ternyata bertolak belakang dengan tugas seorang khalifah, siapa coba yang disalahkan? Pasti orang tuanya. begitupun sebaliknya. Kalau seorang anak itu baik, pintar, sopan. Siapa yang dipuji? ya orang tuanya. Karena itu, menjadi calon orang tua itu gak sederhana guys. Asal ada cowok sama cewek, ijab qabul, nikah, punya anak, jadi pipi sama mimi, selesai gitu? Ya enggaklah. Banyak bahan yang mesti dipersiapkan. Percuma kan kalau masak, alat-alatnya ada, tapi bahan-bahannya gak ada. Lha apa yang mau dimasak?? Bilang aja bahannya ada, tapi setengah-setengah. Opo yo iso enak?

Jadi, udahlah. Gak usah terprovokasi sama kiriman undangan teman, foto-foto pra-wed, atau foto-foto mereka yang sudah memilih untuk mengakhir masa lajang lebih dulu. Tuhan juga udah bilang di Al-Qur’an kan, kalau orang baik untuk orang baik. Begitupun sebaliknya. Untuk saat ini, pantaskan diri dulu. Yakinlah, boy yang di sana juga tengah berusaha yang terbaik buat girl-nya.

Tuhan itu pembuat skenario terbaik. Kisahmu bakal lebih romantis dari drama korea kok. Percaya deh.

Untuk kalian yang sudah menyempurnakan agamanya, selamat. Kalian adalah insan yang pemberani. Dan untuk kalian (termasuk aku) yang masih dalam masa pemantasan diri, gak usah galau. Sang pangeran akan datang di saat yang tepat, saat kita di rasa siap oleh Tuhan untuk ditambahi amanah. 

Loading...
Loading...
Artikel ini di tulis oleh Siti Nur Jannah kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Artikel Terkait