KISAH RAINA #1 - ANTARA CINTA DAN PERSAHABATAN
Tak pernah terfikirkan sedikit pun dibenakku, untuk mempermainkan perasaannya. Tak pernah terfikirkan juga olehku untuk memberinya setitik harapan lalu aku sia kan. Sama seperti dirinya, aku pun rapuh. Tak mungkin aku tega membuatnya berharap, sedangkan aku pun pernah merasakan pedih dan kecewa karena sebuah harapan kosong dari seseorang. Tak mungkin aku tega melakukan sesuatu kepada seseorang, sedangkan aku pun memahami rasa sakitnya.

Bagiku, dia masih tetap sama. Sama seperti pertama kalinya kita bertemu. Saat pertama ia membawakan ranselku di perjalanan itu. Tubuhnya memang kecil, tak banyak berotot, tak banyak berdaging, namun dia terlihat kuat saat ia menawarkan untuk membawakan ranselku di punggung kecilnya. Meski baru pertama kami bertemu, baru pertama kami saling mengenal, namun dia seakan menganggapku sebagai seseorang yang sudah lama dikenalnya. Kami saling bercanda di perjalanan, saling bercerita tentang kehidupan kami sebelum bertemu. Saat itu, aku lakukan sebagai sebuah ungkapan rasa terima kasihku padanya.

Aku pernah mengaguminya. Namun, awal rasa kagum itu tak lebih hanya sebatas kekaguman seorang junior kepada seniornya.

***

Hey Rei ....” Sering kali, dia menyapaku melalui sebuah pesan singkat. Setelah perjalanan waktu itu, hubungan kami memang menjadi lebih dekat.

“Ya, Kak. Raina disini.” Begitulah kalimat yang kujadikan sebagai pesan balasanku. Tak butuh waktu lama, dia selalu bisa dengan cepat merespon pesan balasanku.

Karena seringnya dia mengirimiku pesan, aku seakan tak mampu menolak untuk membuka komunikasi dengannya. Terlebih, hari-hari pertama di sekolah baru, masih membuatku memerlukan cukup waktu untuk lebih mengenal teman-teman baru. Sehingga, untuk saat itu, hanya dia yang bisa kujadikan sebagai teman untuk menghabiskan waktu.

Perhatiannya padaku, kurasakan semakin intensif. Terkadang, ia menjemputku saat pulang sekolah, mengajakku makan siang bersamanya, dan sering pula ia mengajakku pergi ke pantai untuk mendengarnya bercerita.

Seiring berjalannya waktu, perasaan itu memang sedikit tumbuh. Ya. Aku pernah merasa jatuh cinta pada sosok lelaki yang cukup dekat denganku. Namun, aku masih cukup takut membuka hati untuknya. Kubiarkan semua mengalir, kemana pun berjalannya takdir.

Katanya, dia menganggapku sebagai sahabat baik. Bahkan, baginya aku sudah seperti seorang adik. Dia tak segan menceritakan tentang keluarganya, tentang masa lalunya, maupun rencana kedepannya. Terkadang, aku menganggapnya hanya berusaha memancing agar aku bersedia membuka ceritaku padanya.

Semakin lama, aku mulai merasa takut. Aku takut benar-benar jatuh cinta padanya. Dan aku pun takut, mulai menumbuhkan cinta di hatinya. Perasaanku yang mulai bergejolak saat memikirkannya. Hatiku yang mulai bergetar saat bersamanya. Semua itu membuatku gelisah.

Aku pernah merasa, dia telah bisa menumbuhkan cinta di hatiku? Untuknya ...

Masa lalu masih menyisakan luka di hatiku. Dan hal itulah yang pada akhirnya membuatku berusaha mengubur perasaanku padanya. Namun, saat aku berusaha mengubur perasaan itu, saat itulah dia menyatakan perasaannya. 

Dia pun membuatku merasa lebih gelisah. Rasa takut, yang masih menggumpal di fikiranku pada akhirnya bercampur dengan rasa cinta yang mulai tumbuh dihatiku. Aku pun tak bisa dengan jernih memahami apa yang sedang terjadi padaku.

Pada akhirnya, aku tak pernah bisa menyampaikan perasaan itu padanya. Rasa takutku, rasa khawatirku pada sebuah hubungan asmara, membuatku tega menolak cintanya. Aku memahami bagaimana perasaannya, karena aku pun bisa merasakannya.

Dan kesalahan terbesarku adalah menawarkan persahabatan untuknya.

Aku berfikir, persahabatan bisa sedikit mengobati perasaannya. Dan aku pun meyakini, dia bisa memahami perasaanku. Dia bisa menerima keputusanku untuk kembali melanjutkan hubungan ini dalam bentuk persahabatan.

Namun, saat dia bisa dengan ikhlas menerima keputusanku, justru aku lah yang tak bisa mewujudkannya. Persahabatan yang pernah kutawarkan, tak pernah sanggup aku berikan. Karena pada akhirnya, aku lebih memilih untuk menjauh darinya.

Aku tak pernah memintanya untuk memahami perasaanku. Aku tak pernah berusaha membuatnya mengerti rasa sakit dan kecewa yang juga ku rasakan. Kubiarkan dia menganggapku sebagai orang paling jahat dalam hidupnya. Kubiarkan dia mulai membenciku. Dan aku berharap, dia bisa mulai menghilangkan perasaan cintanya dengan kebencian yang mulai tumbuh dalam dirinya terhadapku.

Aku bisa memahami, butuh cukup waktu untuknya agar benar-benar bisa melupakanku. Karena aku pun merasakan hal yang sama. Bagiku, dia adalah seseorang yang berarti dalam hidupku. Bagiku, dia adalah seorang teman, sahabat, dan kakak terbaik. Meski perasaanku menginginkan lebih dari itu, aku tak pernah bisa mewujudkannya.

Darinya, aku mendapatkan sebuah pelajaran berarti. Persahabatan memang bisa menjadi awal untuk tumbuhnya rasa cinta. Namun, setelah cinta itu tumbuh, akan sangat sulit menjadikan persahabatan sebagai akhir dari rasa cinta yang tak mampu terwujud.

  ... 

Artikel ini di tulis oleh Agustino Pratama kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang
Loading...
loading...

Artikel Terkait

close