close
Tentang Aku dan Kamu, Sebuah Ketidakmungkinan yang Menjadi Nyata Pada Akhirnya
Masih ingatkah betapa kerasnya kita berasumsi bahwa kita tidak mungkin berjodoh?

Tidak ada kejadian yang bersifat kebetulan. Tidak ada hal yang tidak diciptakan berpasangan. Tidak ada yang tidak mungkin. Termasuk kamu dan aku, yang sebentar lagi akan menjadi kita.

 

Kamu dan Aku?

Tak pernah sedikitpun aku pernah membayangkan bahwa aku dan kamu akan menjadi kita. Kita yang pernah tiga tahun berada dalam satu lingkaran, kita yang pernah dekat meski hanya sekedar teman curhat, dan kita yang selalu menyangkal bahwa kita tidak layak untuk menjadi pasangan hidup.

 

Masih ingatkah kamu, ketika kita bercanda-canda soal bagaimana seandainya kita ditakdirkan menjadi pasangan hidup? Kamu mengatakan bahwa tentu hidupmu  akan sangat tentram, akupun juga mersakan damai. Kamu juga mengatakan bahwa aku ini adalah spesies langka saking spesialnya diriku sebagai wanita di matamu. Namun kita sama-sama moody, sensitifan, mudah trenyuh oleh hal-hal yang kelihatan sepele. Belum lagi karena aku ini secara akademis lebih tua darimu. Meskipun secara sipil, ketika aku lahir, kamu sudah berusia 1 bulan. Hehe

 

Iya, kita banyak berasumsi bahwa kita tidak jodoh. Yang karena beda budaya lah, orang tua mungkin tidak setuju lah, ribet lah. Bahkan kita sering mengkait-kaitkan masalah fisik. Mana mungkin cowok yang termasuk dalam golongan tinggi berjodoh dengan cewek yang termasuk golongan mini? Mana mungkin si mancung berjodoh dengan si pesek? Mana mungkin wanitanya lebih tua secara akademis? Lah nanti dikatain tante-tante jalan sama berondong gimana donk?

 

Okey, kita memang punya banyak asumsi untuk mengatakan kita tidak mungkin berjodoh. Namun untuk apa kita sering jalan berdua? Untuk apa kita sering makan bersama? Untuk apa kita nonton film-film lucu agar bisa tertawa berdua saja? Untuk apa kita sering curhat masalah masing-masing? Semua kebersamaan ini lantas untuk apa?

 

Kita berfikir simple bahwa semua ini untuk persahabatan. Lambat laun kita akhirnya punya kekasih masing-masing. Namun kita juga tidak pernah absen untuk saling mengabari. Apalagi kalau salah satu dari kita sedang ada masalah dengan pasangan masing-masing. Ingat kan, betapa semangatnya kamu menyuruhku untuk mengakhiri hubungan? Berbeda denganku yang selalu menasehatimu untuk mempertahankan hubungan dengan pacarmu waktu itu.

 

Ah sudahlah,,

Itu hanya sebatas cerita tempo dulu. Lihatlah kita sekarang, yang tengah mendekati hari untuk menseriuskan hubungan. Lihatlah diri kita yang telah merobohkan ego dan gengsi masing-masing. Lihatlah sepasang cincin kuning keemasan yang sebentar lagi akan kita kenakan. Sepasang kepala yang sanagt keras mengumpulkan argumen soal mereka yang tidak berjodoh justeru akan disatukan dalam suatu ikatan suci. Bagaimana bisa ? Aku saja kadang masih tidak percaya.

 

Walau bagaimanapun tapi inilah yang terjadi. Sejauh apapun tupai melompat pasti akan terjatuh juga. Sepandai-pandainya kita mengelak akhirnya terjatuh juga dalam cinta yang luar biasa. Jika Tuhan telah berkehendak, kamu yang pernah jadi miliknya dan aku yang pernah jadi milik  yang lainpun bisa bersama. Jika Tuhan menjodohkan, terpisah jarak sejauh apapun  pasti akan didekatkan. Dan karena Tuhan yang Berkuasa, maka segala kekurangan yang sering menjadi senjata kita untuk saling mencandai malah membuat kita jatuh cinta.

 

Semoga, aku dan kamu akan selamanya menjadi kita. Tak hanya di dunia, namun juga tetap bersama sampai Jannah-Nya. Aamiin,,

 

 

Loading...
Artikel ini di tulis oleh Reva Rindi Antika kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Artikel Terkait