Fakta Menarik tentang Jenderal 'Buldozer' Luhut Binsar Panjaitan
Jenderal Purnawirawan Luhut Binsar Panjaitan, saat ini menjabat sebagai Menko Kemaritiman. Banyak fakta menarik soal Luhut. Apa saja itu? Simak artikel ini.
Saat ini, Jenderal (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan jadi orang penting di republik. Mantan serdadu pasukan khusus itu sedang menjabat sebagai Menteri Koordinator Kemaritiman, menggantikan Rizal Ramli. Sebelumnya, Luhut sempat menjabat sebagai Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan. 
 
Luhut terkenal dengan gaya bicaranya yang lugas. Bahkan terkesan tanpa tedeng aling-aling. Setiap berkata, intonasinya jelas dan tegas. Mungkin karena bekas tentara, maka Luhut tampak lugas. Salah satu kalimat yang kerap diucapkan Luhut adalah kata 'buldozer'. Kata 'buldozer' digunakan Luhut sebagai ganti kata 'menyikat habis'. Kata itu kerap diucapkan Luhut dan ditujukan kepada mereka yang dianggapnya melanggar aturan. Atau kepada mereka yang dianggap Luhut, mengganggu atau bahkan mengancam kewibawaan pemerintah. 
 
Karirnya di tentara, banyak dihabiskan di kesatuan elit TNI-AD, Kopassus. Di era Gus Dur jadi Presiden, Luhut pertama kali jadi masuk kabinet. Oleh Gus Dur, Luhut diangkat jadi Menteri Perdagangan. Sebelumnya di era Habibie, Luhut jadi Duta Besar Singapura. Selepas tak lagi jadi pejabat negara, Luhut lebih banyak berkecimpung di dunia bisnis. Di luar itu, ia juga sempat aktif di Golkar. Di partai berlambang beringin itu, Luhut pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pertimbangan, sampai kemudian mengundurkan diri karena mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla di Pilpres 2014. Seperti diketahui, saat Pilpres kemarin, Golkar mendukung Prabowo-Hatta Rajasa rival Jokowi. Banyak sisi menarik dari seorang Luhut, pensiunan perwira bintang empat tersebut. 
 
1. Ayahnya seorang supir bis

 
Luhut, sekarang jadi orang penting di Indonesia. Ia seorang Menko. Tapi, kesuksesannya di dunia politik, maupun bisnis, tak serta merta jatuh dari langit. Ia harus kerja keras meraih semua itu. Bahkan itu dari kecil. 
 
Ya, Luhut bukan berasal dari keluarga orang berada. Bahkan menurut pengakuannya, ia datang dari keluarga 'miskin'. Ayahnya hanya seorang supir. Supir bus 'Sibuali-buali' yang melayani trayek antar provinsi di Sumatera. Namun ia beruntung, ayahnya punya kepedulian besar terhadap pentingnya pendidikan bagi anak-anaknya. 
 
" Saya punya bapak supir bis. Dia supir bis Sibualbuali. Itu bis antarkota dari Medan sampai Padang, Bukit Tinggi,"  begitu kata Luhut saat meresmikan proyek pos perbatasan di Skouw, Papua. Kebetulan saya hadir di sana untuk meliput acara tersebut. 
 
Jadi, kata Luhut, meski ayahnya seorang supir, tapi tahu pentingnya pendidikan bagi modal hidup anak-anaknya. Dan salah satu ajaran hidup yang didapat dari ayahnya, jangan pernah mengemis. Tapi harus berani bertarung dan berjuang. Luhut sendiri lahir di Sumatera Utara, 28 September 1947. 
 
2. Ibunya, ibu rumah tangga biasa yang tak lulus SD

 
Ibu Luhut juga bukan datang dari keluarga berada. Ibunya hanya seorang ibu rumah tangga. Istri yang semata mengabdi mengurus anak dan rumah. Bahkan ibunya tak tamat SD. 
 
" Ibu saya tak tamat SD.  Jadi saya tak mau dikasihani," kata Luhut, di Papua. 
 
Tapi walau begitu punya semangat besar menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin. Hasilnya kini dituai. Luhut, jadi Jenderal. Dan, beberapa adiknya lulusan sekolah luar negeri. 
 
3. Pernah dijanjikan Gus Dur jadi Kepala Staf TNI-AD

 
Dalam sebuah acara haul Gus Dur, Luhut pernah bercerita. Ketika jadi Duta Besar di Singapura, ia pernah mengundang Gus Dur untuk hadir di seminar yang digagasnya. Seminar yang dihadiri para pengusaha besar asal Indonesia. Saat itu, Luhut ditugaskan Presiden Habibie yang menunjuknya Dubes, untuk memberi jaminan pada pengusaha asal Indonesia, bahwa situasi negara sudah aman untuk investasi. 
 
Ketika itu, pasca kerusuhan di Jakarta tahun 1998, banyak pengusaha asal Indonesia yang eksodus ke Singapura. Nah, di acara seminar itu, Gus Dur berucap. Saat itu menurut Luhut, Gus Dur mengatakan, sebentar lagi mantan Ketua PBNU itu akan jadi Presiden. Tidak hanya itu, Gus Dur juga berujar, jika sudah jadi Presiden, ia akan tarik Luhut ke Jakarta. Gus Dur menjanjikan jabatan Kepala Staf TNI-AD untuk Luhut. 
 
Ya, Gus Dur memang kemudian jadi Presiden. Luhut pun memang setelah itu ditarik Gus Dur ke Jakarta. Tapi, bukan jadi kepala staf. Luhut dijadikan Gus Dur, Menteri Perindustrian dan Perdagangan. 
 
4. Pernah 'menyepelekan' Gus Dur


Di acara haul Gus Dur, Luhut berterus terang sempat 'menyepelekan' Gus Dur, yang mengatakan, sebentar lagi akan jadi Presiden. Kata Luhut, pertama kali Gus Dur ngomong akan jadi Presiden, ketika ia diundang mantan Ketua PBNU itu untuk buka bersama. Saat itu, ia hendak berangkat ke Singapura setelah ditunjuk Habibia jadi Dubes. 
 
Di meja makan sembari bersantap Gus Dur ngomong pada Luhut bahwa sebentar lagi dirinya akan jadi Presiden. Gus Dur pun meminta Luhut membatalkan kepergiannya ke Singpura. Luhut mengaku, ketika mendengar itu ia sempat mencibir dalam hati. " Suka-suka kaulah," kata Luhut, menceritakan kembali kisah saat ia ngobrol santai dengan Gus Dur. 
 
5. Jadi menteri pada presiden yang berbeda. 

 
Sebagian besar karir Luhut dihabiskan di militer. Di kesatuan Kopassus, ia lama berkiprah. Lalu di era Habibie jadi Presiden, ia diangkat jadi Dubes di Singapura. Baru di masa Gus Dur jadi Presiden, ia pertama kali masuk kabinet. Luhut ditunjuk Gus Dur jadi Menteri Perdagangan dan Perindustrian. Setelah itu Gus Dur jatuh.  Di era Megawati yang menggantikan Gus Dur  Luhut Luhut tak lagi dipercaya jadi menteri. 
 
Kemudian SBY naik jadi Presiden, setelah menang di Pilpres 2004. Tapi di era SBY jadi Presiden, Luhut tak pernah masuk kabinet. Sampai SBY pun pensiun pada 2014. Baru di masa Presiden Jokowi, ia kembali masuk kabinet. Pertama menjadi Kepala Staf Kepresidenan. Tapi dalam reshuffle kabinet jilid II, Luhut diangkat Jokowi jadi Menkopolhukam menggantikan Laksamana Tedjo Edhy Purdijatno.
 
Pada reshuffle jilid II, posisi Luhut kembali digeser. Ia jadi Menko Kemaritiman menggantikan Rizal Ramli. Jabatan itu yang hingga sekarang dipegangnya. 
 
6.  Salah satu pendiri dan Komandan pertama Satgultor 81 Kopassus


 
Kopassus bagi Luhut, ibarat rumah keduanya. Di kesatuan baret merah itu, sebagian besar jejak karirnya dihabiskan. Nah, di kesatuan itu Luhut tercatat sebagai salah satu pendiri satuan anti teror Kopassus yang bernama Satuan Penanggulangan Teror 81 atau Satgultor 81. 
 
Ketika itu, Luhut baru saja pulang dari pendidikan anti teror di Jerman. Oleh Jenderal Benny Moerdani, Panglima ABRI ketika itu, Luhut ditugaskan untuk mulai merintis pembentukan satuan anti teror Kopassus. Luhut pula yang jadi komandan pertama Satgultor yang berdiri pada tahun 1981. Ia jadi komandan Satgultor sampai tahun 1992. Wakilnya ketika itu adalah Prabowo Subianto. 

8. Punya sekolah bertaraf internasional

Luhut adalah Jenderal yang menaruh perhatian besar kepada dunia pendidikan. Saat jadi pengusaha, hingga jadi menteri sekarang, Luhut banyak memberikan bea siswa. Bahkan kepeduliannya terhadap dunia pendidikan diwujudkan Luhut lewat pendirian Universitas Dell yang kampus ada di sekitar Danau Toba. 

Artikel Terkait