Bercerai Atau Memaafkan Ketika Mengetahui Pasangan Selingkuh

25-10-2016 (1 month ago)

Pernikahan adalah komitmen seumur hidup, janji suci kepada Tuhan, jauhi perceraian.

Sedih, perih, kecewa dan trauma ketika Roma – 49 tahun (nama samaran) mengetahui sang suami Ronald – 68 tahun (nama samaran) sudah menjalin hubungan terlarang selama dua tahun dengan Rina – 67 tahun (nama samaran), seorang janda. Menurut pengakuan Ronald, hubungan tersebut terjadi diawali dengan pertemuan acara reuni SD yang dilaksanakan di jakarta dua tahu lalu. Awalnya hanya telepon-teleponan, kemudian pertemuan sembunyi-sembunyi lanjut ke ranjang. Semua berjalan sangat cepat dan tanpa terkendali.

Satu hal yang sangat disesali Roma adalah, kejadian ini terjadi disaat Ronald sudah menginjak umur 68 tahun, saat dirinya (Roma) sudah tidak produktif lagi mencari pendapatan keluarga, disaat anak bungsu mau masuk kuliah, apalagi selingkuhan suami adalah seseorang yang lebih tua dari darinya. Hancur, sakit hati dan terhina  dirasa Roma. 

Berhari-hari Roma mengurung diri, menangis, menutup diri, bahkan menjauhkan diri dari Sang Pencipta.  Permohonan ampun dan permintaan maaf Ronaldpun tidak ada gunanya.  Roma terus merenung dan intropeksi diri apa yang salah dari pernikahannya,  hingga suatu titik dia memandangi anak-anaknya yang masih butuh keutuhan rumah tangga. Anak-anak yang begitu menyayangi dan menghormati papanya begitu menyayat hari Roma. Roma tidak tega menghancurkan perasaan dan masa depan anak-anaknya. Roma tidak tahu dan tidak mampu menjelaskan alasahan percerain kepada sibungsu jika memang benar-benar harus bercerai. Cobaan sebagai ibu begitu  berat dirasa Roma. Bagi Roma, tidak ada yang lebih penting daripada anak-anak, apapun akan dipertarukan demi anak-anak.

Roma menyadari bahwa mengurung diri dan bermusuhan dengan suami tidak aka ada manfaatnya, dia harus berdiri tegak dan mencari solusi atas masalahnya.

Cerita diatas adalah nyata dan benar-benar terjadi. Banyak pasangan suami-istri yang berhasil melalui coba-cobaan permasalahan Rumah Tangga termasuk permasalah perselingkuhan, akan tetapi banyak juga yang menyerah dan lebih memilih jalur pengadilan untuk menyelesaikannya. Beberapa hal dibawah ini patut dicoba jika memang pernikahan layak untuk di perbaiki demi anak-anak dan demi sejauh mana kita bisa mengampuni orang lain.

Mendekatkan diri kepada Tuhan-Intropeksi


Yang paling bijak dan paling tepat adalah curhatlah kepada Dia sang Pemilik Segala-galanya. Curahkan isi hatimu dan adukan segala permasalahanmu. Minta petunjuk dan penyelesaian atas permasalahanmu. Tidak mungkin Tuhan memberikan jalan keluar yang tidak tepat.

Pada saat kita berdoa, rendahkan dirimu serendah-rendahnya,  yang secara otomatis akan membawa kita ke hal yang paling signifikan yaitu itropeksi diri. Ketika proses intropeksi terjadi maka kita akan mendapati diri kita ternyata adalah seseorang yang penuh dengan kesalahan juga, sama seperti suami/pasangan yang telah berselingkuh. Renungkalah, apa yang terjadi sehingga suami/pasangan harus berpaling keorang lain. Apakah kita telah benar-benar merespon kebutuhan pasangan kita? Apakah selama ini kita sudah menghargai pendapat pasangan kita? Apakah kita selama ini suka berkata kasar kepada pasangan kita? Apakah kita suka memotong pembicaraan pasangan kita? Apakah kita suka merendahkan pasangan kita didepan umum?  Kadang-kadang kita lebih mudah melihat kesalahan orang lain daripada kesalah diri sendiri, kesalahan kita mungkin lebih banyak daripada orang lain. Ingat, selalu  menyalahkan pasangan yang berselingkuh tidak akan ada gunanya dan ujung-ujung akan bercerai yang akibatnya anak-anak yang akan jadi korban, oleh karena itu cobalah lihat diri sendiri.

 

Pengampunan dan diskusi dengan pasangan


Ketika anda yakin untuk memaafkan pasangan yang berselingkuh dengan berbagai pertimbangan, maafkanlah dengan ikhlas. Ampuni dia dengan setulus hati, bangkitkan rasa percaya dirinya, bagaimanapun juga pasangan kita  pasti merasa rendah diri akibat dari perbuatanya. Tetap hormati dan hargai dia, dengan begitu dia merasa masih mendapatkan tempat yang terbaik dihati kita.

Kemudian, ajaklah suami berbicara secara pribadi dan jauh dari emosi, cari tahu perilaku apa  yang pasangan tidak sukai dari anda, solusi apa dan langkah-langkah apa yang tepat yang perlu dilakukan sehingga perilaku-perilaku yang dianggap membahayakan hubungan suami-istri bisa dihilangkan paling tidak dihindari. Biarkan suami berbicara terlebih dahulu sepuasnya, pegang tanganya dan lihat matanya. Buat dia merasa berharga. Suami/pasangan yang berselingkuh pasti akan merasa bersalah juga jika kita tetap menghormati dia. Bukankah hati yang lembut mengalahkan hati yang keras. 

Komitmen


Ketika kedua belah pihak sudah sama-sama memahami kesalahanya, dilanjutkan  saling memaafkan, maka waktunya mengulang kembali komitmen pernikahan mula-mula yang isinya, saling mencintai, saling menghormati, saling melayani, saling menerima kekurangan masiang-masing,  dan saling bergandengan tangan mengarungi pernikahan dalam suka dan duka. Ingat tujuan pernikahan adalah saling membahagiakan sampai akhir hayat. Lupakan masa lalu, melajulah dan raihlah  masa depan.

Bulan madu kedua?


Kenapa tidak? Lakukanlah kalau memang mengijinkan, tidak perlu mahal-mahal, pergi berduaan nonton film atau sekedar pergi kepuncak satu malah tidak akan rugi - justru mungkin akan menambah keromantisan anda.

Catatan : 
1. Setiap pernikahan tidak pernah lepas dari permasalahan, baik itu permasalah ringan maupun berat, jangan jadikan       perceraian sebagai penyelesaian permasalah anda. Ingatlah cinta dan janji diawal anda menikah. 

2. Andalkan Tuhan disetiap pergumulan anda, maka pernikahan akan terasa indah...

Bergabung jadi penulis

Bergabung bersama kami,tulis artikel,Share artikel anda,dapatkan penghasilannya

Buat Artikel