Wajarkah Kita Cemburu?
Dari yang Cuma gebetan tanpa status, hingga yang sudah berkeluarga punya dua anak, masih saja bisa mengalami rasa cemburu. Bagaimana menurutmu tentang cemburu? Wajarkah hal itu terjadi?

“Kamu keluar sama siapa kemarin?”

“Itu teman aku, Cuma nganterin doang”

“Cuma? Berduaan gitu kamu bilang Cuma?”

Bla..,bla…bla…bla…

Maka percayalah, semakin kamu menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka niscaya pertanyaan selanjutnya akan semakin tak masuk akal. Dan meskipun kamu berhasil menjawab semuanya (alias pinter cari alasan), ujung-ujungnya kalian tetep saja ndak baikan, ya kan? Hal itu biasa disebut dengan “cemburu”.

Cemburu merupakan hal yang selalu mewarnai setiap hubungan, ibaratnya seperti sebuah bumbu yang wajib ada dalam sebuah masakan. Dari yang Cuma gebetan tanpa status, hingga yang sudah berkeluarga punya dua anak, masih saja bisa mengalami rasa cemburu. Bagaimana menurutmu tentang cemburu? Wajarkah hal itu terjadi?

Semua orang bebas mendefinisikannya, karena itu memang bergantung pada hubungan yang pastinya tiap orang berbeda-beda. Tergantung juga mereka dapat pasangan yang kayak gimana. Ada yang berfikiran bahwa cemburu itu selalu tak masuk akal, seperti hanya mencari-cari kesalahan pasangan saja dan akhirnya menyebabkan pertengkaran. Apalagi kalau cemburunya sudah meningkat ke level posesif, rasa-rasanya seperti tahanan yang diawasi sipir pengawas 24 jam kali seminggu, bahkan bisa saja ditambah aturan wajib lapor. Kebanyakan pasangan akan sangat risih bila dicemburui seperti itu, alasannya sih karena merasa ndak bisa bebas dalam berteman. Yah masa pilihan kita hanya ada dua, kalau ndak keluar sama pacar ya keluar sendirian.

[Kayaknya tahu banget? Pernah ngerasain?]....Hmmmm, kurang lebih pernah mengalami juga “semacam” itu sih. Aku bilang “semacam” lho ya, ndak sampek separah yang tak sebutin diatas (bilang aja takut dibaca pacarnya). Secara garis besar rasanya ndak nyaman banget kalau dicemburui. Tapi sepertinya ndak adil rasanya kalau kita hanya melihat dari sisi “yang dicemburi” aja, kita juga harus melihat dari sisi “yang cemburu”.

[Lho? Pernah cemburu juga? Dasar ababil]…Heyyy, demi membuka mata hambaNYA, Tuhan akan menciptakan karma agar bisa merasakan apa yang orang lain rasakan (catat tuh!!!), ya jelas pernah laahhh. Tapi cemburu itu sebenarnya ndak Cuma sekedar iri karena orang lain atau hal lain mendapat perhatian lebih dari pasangan kita. Ada lagi cemburu yang lebih kompleks (pakai bahasa agak tinggian dikit).

Cemburu jenis ini adalah cemburu pada keadaan atau situasi. [Tuh kan ketinggian, maksudnya gimana sih?]….maksudku gini, aku kasi studi kasus aja ya,

“Suatu ketika pacarmu mau ke terminal, dan posisimu sedang ada jauh di luar kota. Otomatis kamu ndak bisa jadi tukang ojek kan? Ehhh..maksudku kamu ndak bisa nganterin dia kan. Ditambah lagi duitnya dia lagi nipis tuh, dan akhirnya dia diantar temannya, lawan jenis pula”

Naahhh, gimana perasaanmu sebagai pacarnya? Mungkin ada yang berpendapat kalau itu ndak masalah, soalnya kan memang lagi kepepet. Ada juga yang langsung merasa cemburu ndak jelas, marah-marah ndak jelas, diem-dieman ndak jelas, dll.

[Kalau perasaanmu gimana?]…Dua-duanya, pikiran rasionalku berkata kalau itu gak apa-apa soalnya kan memang lagi kepepet. Tapi hati ini berkata lain, masih terbesit rasa cemburu dan kesal. Seolah hati berkata, “kenapa ndak aku aja sih yang nganter? Kenapa kita pas jauhan gini?”.

Aneh kan ya? Ya memang begitulah hati kalau sudah mencintai seseorang. Sering kali ada rasa yang tak bisa dijelaskan dengan rasional. Makanya kalau kamu mengalami situasi seperti atau semacam itu, dan pacarmu berkata atau bersikap seperti tak cemburu, jangan percaya begitu saja. Dia BERBOHONG, pasti ada rasa cemburu di hatinya sekecil apapun itu. Cuma saja dia ndak mau membahasnya karena merasa hal itu tak perlu diperdebatkan. Kalau misal dibahas ya kurang lebih mirip seperti percakapan di awal tulisan ini.

Punya perasaan cemburu itu memang sakit dan ngeselin. Tapi lebih sakit lagi ketika cemburu dihatimu berperang hebat melawan rasionalitasmu. Itu sering terjadi saat situasi tak mendukung alias kepepet, serupa dengan studi kasus yang saya ceritakan di atas. Lalu solusi terbaiknya gimana? Kalau saranku sih, tekan sekuat mungkin rasa cemburumu, menangkan rasionalitasmu, dan siapkan kata-kata “Iya gapapa” seindah mungkin. Kalau perlu dikasi emot-emot lucu juga boleh. Rasa cemburu itu wajar dimiliki oleh masing-masing pasangan, asalkan dimiliki dalam jumlah yang sewajarnya. Dan sudah menjadi kewajibanmu untuk mengetahui tingkat kecemburuan pasanganmu. Karena yang membuat kecemburuan pasanganmu menjadi tidak wajar, ya kamu sendiri.

Artikel Terkait