close
​  Cinta Memang Tidak Harus Saling Memiliki, Tetapi Tidak Seharusnya Juga Terus Menyimpannya Sementara Sudah Ada Yang Lain
Biarpun cinta yang dulu tidak bisa saling memiliki bukan berarti kita juga harus tetap menyimpan namanya di hati kita, sementara Alloh sudah memberikan gantinya yang lebih baik lagi. Sudah seharusnya kita belajar melupakannya agar kita bisa memulai belajar mencintai orang yang sudah Alloh pilihkan untuk menjadi teman hidup kita sampai nanti akhir hidup kita.

Memang sulit juga ya ketika kita harus menikah dengan seseorang tetapi di hati orang itu masih tersimpan nama kekasihnya yang dulu sampai-sampai saat memanggil nama kita keliru memanggil nama kekasihnya yang ia cintai tetapi tidak bisa di milikinya. Padahal, orang itu sudah menjadi pasangan hidup kita secara syah, tentunya hati kita merasa sakit saat mendengar ia salah sebut nama, tetapi mau bagaimana lagi kalau sebelum menikah ia sudah jujur duluan kalau dulunya ia mencintai seseorang tetapi orang itu tidak bisa di milikinya karena sudah menikah dengan orang lain, tetapi rasa cinta itu masih ada sampai ketika ia menikah dengan kita, dan kita yang harus bisa mengerti dirinya, dengan segala kekurangannya.

Rasa cinta itu memang tidak bisa kita paksakan untuk hadir begitu saja di hati kita, karena cinta tidak bisa di paksakan, dan kita mencoba untuk bisa menerimanya. Tetapi alangkah baiknya jika sudah melangkah ke pernikahan rasa cinta kita buat orang lain itu seharusnya kita hapus secara pelan-pelan agar kita bisa seutuhnya mencintai pasangan hidup kita yang pada saat akad nikah dengan nama Alloh kita berjanji untuk menyayanginya dengan sepenuh hati sampai akhir hidup kita.  Sekalipun rasa itu ada di dalam dada dan ia juga tidak akan tau jika kita masih menyimpan namanya dengan rapat-rapat, tetapi akan menyakitkan jika sampai tanpa kita sadari nama orang yang seharusnya sudah kita lupakan itu terucap di depan orang yang sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tentu saat kita salah menyebut nama akan menyakiti hati pasangan hidup kita, sekalipun mungkin ia bisa mengerti kita untuk tidak marah, tetapi sebagai seorang pasangan yang baik, tidak seharusnya itu terulang lagi. Kita bayangkan jika itu terjadi kepada kita, bagaimana perasaan kita saat pasangan hidup kita memanggil nama kita dengan sebutan kekasihnya tanpa ia sadari, karena nama itu masih tersimpan rapat di hatinya. Apakah kita akan bisa menerimanya dengan hati lapang sebagai bagian dari kekurangannya? Jika boleh jujur, tentu hati kita juga akan sakit mendengarnya.


Lebih kedalam lagi, coba kita renungkan. Jika cinta tidak harus memiliki karena orang yang kita cintai sudah menikah lagi dengan orang lain, apakah kita juga berharap kekasih kita yang sudah menjadi milik orang lain itu juga masih menyimpan cinta buat kita? Jika itu terjadi alangkah pahitnya pernikahan yang ia jalani, tentunya ia tidak akan bisa berbahagia. Apakah itu yang kita harapankan dari orang yang kita sayangi, penderitaannya? Kalau kita memang benar-benar mencintainya, seharusnya kita mengikhlasnya agar ia juga bisa mengikhlaskan kita dan ia sepenuhnya bisa belajar mencintai pasangan hidupnya karena sudah terikat tali pernikahan. Begitupun dengan kita juga harus bisa belajar dengan lapang hati menerima pasangan hidup kita dan mencintainya sepenuh hati.

Saat kita sudah memutuskan untuk menikah dengan seseorang biarpun pada awalnya kita tidak mencintainya karena orang yang kita cinta sudah menikah dengan orang lain, tetapi bisakah kita hidup bersama tanpa ada rasa cinta sedikitpun? Kita meminta pengertian dari pasangan hidup kita, saat hendak menikah dengannya kita sudah sejujur-jujurnya terbuka mengenai perasaan kita bahwa di hati kita masih ada terukir namanya. Dan pasangan hidup kita bisa mengerti parasaan kita. Bukan berarti lantas kita membiarkannya begitu saja tanpa berusaha untuk menjaga perasaannya, bahkan mengabaikannya sampai - sampai kita salah sebut nama, bukankah itu tanpa kita sadari telah menyakiti hatinya, hati orang yang sudah menikah dengan kita?


Alangkah baiknya jika kita sebagai orang yang arif menerima apa yang sudah di takdirkan oleh Alloh untuk menjadi bagian hidup kita sekalipun orang itu bukanlah orang yang kita cintai, tetapi setidaknya kita mau untuk belajar mencintainya karena apapun kenyataannya ia sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kalau kita mau membuka hati kita untuknya, maka Alloh akan membantu usaha kita melupakan masa lalu kita untuk bisa memulai kehidupan yang baru yang akan kita jalani juga dengan penuh cinta.

Apa yang sudah Alloh gariskan itu yang terbaik buat hidup kita. Orang yang saat ini menjadi pasangan hidup kita adalah pilihan Alloh yang harus kita sayangi dan kita cintai. Biarpun cinta yang dulu tidak bisa saling memiliki bukan berarti kita juga harus tetap menyimpan namanya di hati kita, sementara Alloh sudah memberikan gantinya yang lebih baik lagi. Sudah seharusnya kita belajar melupakannya agar kita bisa memulai belajar mencintai orang yang sudah Alloh pilihkan untuk menjadi teman hidup kita sampai nanti akhir hidup kita. Dengan begitu kebahagian akan kita miliki, dan doa kitapun untuk kekasih kita yang dulu kita cintai tetapi tidak bisa kita miliki, juga akan berbahagia dengan pasangan hidupnya di sana.

Loading...
Loading...
Artikel ini di tulis oleh Theresia Hardiyanti kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Artikel Terkait