Yang Harus Diketahui Tentang Dismenore

04-11-2016 (1 month ago)

Dismenore dalam istilah awam dikenal dengan nyeri haid. Walaupun tidak mengancam nyawa, nyeri haid seringkali membebani wanita secara psikologis.

Pada beberapa wanita, nyeri haid dapat menjadi momok setiap bulannya. Dua puluh lima persen wanita di seluruh dunia diperkirakan mengalami keluhan ini.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa 40% dari populasi wanita mengalami berbagai gejala yang meresahkan selama minggu terakhir siklus menstruasi. Sayangnya, mekanisme jelas dari terjadinya nyeri haid masih belum dapat dipahami secara menyeluruh.
Dismenore terbagi menjadi dua, yaitu :

Dismenore primer



Dismenore primer terjadi tanpa adanya kelainan pada panggul. Umumnya bermula pada enam bulan pertama setelah mens. Selama haid, meluruhnya sel-sel endometrium melepaskan suatu zat yang disebut prostaglandin yang menyebabkan berkurangnya aliran darah pada rahim melalui kontraksi otot dinding rahim.

Pada dismenore primer dapat ditemukan nyeri perut bagian bawah yang bermula pada awitan mens dan bertaham selama 8-72 jam, adanya nyeri punggung bagian bawah, nyeri paha bagian tengah atau depan, sakit kepala, diare, mual atau muntah, dan pemeriksaan panggul tidak ada kelainan.

Dismenore sekunder


Dismenore sekunder merupakan akibat dari kelainan panggul yang dapat diidentifikasi. Hal ini dapat terjadi kapanpun, namun seringnya terjadi pada wanita berusia 20 sampai 30 tahun. Penyebab umum mencakup endometriosis (kista coklat), penyakit radang panggul, dan penggunaan alat kontrasepsi dalam rahim.

Pada dismenore sekunder dapat ditemukan infertilitas, menstruasi yang sangat banyak atau perdarahan tidak teratur, nyeri pada saat berhubungan seksual, sekret vagina bermasalah, nyeri tidak dapat dihilangkan dengan obat anti nyeri, teraba massa pada rahim, nyeri pada pergerakan mulut rahim saat pemeriksaan, dan adanya kelainan pada vagina.

Penatalaksanaan


Ketika nyeri menyerang, dapat dihalau dengan pemberian anti nyeri sederhana seperti aspirin atau asetaminofen. Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) juga dapat diberikan pada beberapa penderita. Kontrasepsi oral yang memblokir pelepasan sel telur bulanan dan menurunkan aliran darah menstruasi diketahui dapat menurunkan gejala nyeri.  Selain itu, sejumlah suplemen diketahui memiliki potensi mengurangi nyeri ketika haid datang, seperti tiamin, minyak ikan, piridoksin, magnesium, dan vitamin E.



Norethisterone merupakan hormon progesteron sintetik yang dikenal pula sebagai kontrasepsi oral. Mekanisme kerja obat ini sebagai kontrasepsi adalah menebalkan cairan vagina sehingga sperma tidak dapat memasuki rahik serta mengubah sel dalam rahim agar sel telur tidak dapat bertumbuh disana sehingga mencegah terjadinya kehamilan.

Secara umum, obat ini dapat pula digunakan untuk mengatasi menstruasi yang tidak tetatur, nyeri, sangat banyak, endometriosis (keadaan menstruasi yang nyeri karena jaringan pelapis dalam rahim bertumbuh di luar rahim), sindrom premenstruasi, dan mencegah kehamilan. Obat ini dikonsumsi sekali sehari. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Bishop, periode bebas nyeri terjadi setelah pemberian obat ini pada 65 dari 95 siklus menstruasi pada 27 pasien yang mengeluhkan nyeri haid. (*)

Bergabung jadi penulis

Bergabung bersama kami,tulis artikel,Share artikel anda,dapatkan penghasilannya

Buat Artikel