Teman-teman membully-ku, haruskah ku abaikan?
Kita kadang memendam rasa tidak nyaman saat teman-teman mencandai bentuk tubuh kita yang tak sempurna. "ah gitu aja tersinggung, marah...". pernah mengalaminya? haruskah kita diam saja saat hati kita merasa tidak nyaman? renungkan sejenak cerita dibawah ini.
“Duduk, papa mau panggil teman-temanmu kerumah, mereka harus tahu caranya menghormati perempuan!”. Aku terkejut setengah mati, apa yang terjadi? Ayahku tiba-tiba marah besar dan memanggil beberapa pemuda yang kukenal. Mereka memang tinggal sekitar rumahku. Kami tidak begitu akrab, hanya sekedar menyapa bila kebetulan berpapasan. Saat itu aku masih duduk di sekolah menengah, kebanyakan dari mereka memang seusiaku bahkan lebih tua. Yang kutahu kegiatan mereka sehari-hari hanya nongkrong didekat warung, bermain gitar, layaknya anak-anak remaja yang tinggal di sekitaran komplek.

Aku masih tertegun diruang tengah cemas bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Tapi tak berani bertanya karena kulihat ayahku sedang sangat emosi sembari meremas kertas dalam genggaman tangannya. Ketika para pemuda tersebut datang, aku baru tahu kalau mereka menuliskan namaku dan menggambar karikatur wajahku dalam kertas itu, mereka menuliskan hal yang tak senonoh dan menempelkannya di jendela warung komplek perumahan kami hingga tiap orang yang berbelanja ke tempat itu akan melihatnya. Dan yang paling membuat ayahku marah adalah kalimat yang tertulis dalam kertas itu tertuju pada penampilan fisik-ku. Mereka melecehkan aku.

Saat itu aku merasa marah terhadap ayahku, aku tak siap. Jika aku tahu lebih dulu mungkin akan kubuang kertas itu dan takkan kujadikan masalah yang besar. Sudah cukup sering kudengar orang melecehkan bentuk tubuhku yang tambun. Aku tak mempermasalahkannya, walau aku tak suka. Namun membahasnya seperti ini membuatku malu. Aku lebih marah terhadap ayahku karena membuat banyak orang jadi tahu kalau aku menjadi bulan-bulanan pemuda di komplek ini. Ditambah dengan kemarahan itu aku merasa tak layak mendapatkannya. Walau kupahami itu karena ia tak terima putri-nya dijadikan bahan tertawaan.

Tahun pun berganti. Kini aku bukan remaja lagi, usiaku memasuki awal 30. Banyak pelajaran yang kudapat dalam memperbaiki penampilanku. Tubuhku masih tetap gemuk bahkan sepertinya bertambah. Aku masih tetap mengalami bullying hingga saat artikel ini ditulis. Lucunya, perlakuan itu ku dapatkan dari teman-teman dekat. Mereka yang hampir setiap hari berinteraksi denganku. Memang awalnya  ku tanggapi dengan candaan. Mungkin dari responku mereka menyimpulkan bahwa aku suka diperlakukan demikian. Alhasil bullying itu berlangsung terus menerus bahkan kadang lebih sadis dari hinaan para pemuda di komplek rumahku dulu.

Haruskah aku diam saja?

Aku bisa diam saja, toh aku tak ingin di cap baper (Bawa Perasaan). Aku tak ingin mereka menganggapku “si gendut yang sensitif”, nggak asik, dan segala cap yang membuatku mengingkari rasa sakit yang kurasakan. Aku membaca artikel-artikel yang menggali kepercayaan diri, tentang menjadi diri sendiri, jika kamu mencintai dirimu maka takkan ada masalah dengan penilaian orang terhadapmu.

Dalam kasus ini tak ada lagi ayah yang berdiri sebagai pembela. Aku berhak diam saja seperti yang ku mau, dan tak usah mempermasalahkan-nya. Mungkin aku hanya fokus menggali potensi diri dan berpikir positif saja. Tapi tidak! Aku akan membela diriku, sama seperti ayahku yang menganggapku berharga maka aku akan berlaku demikian. Dengan anggun ku katakan bahwa mereka tak boleh melakukannya lagi. Aku bisa membalasnya namun takkan ku lakukan, aku bukan yang seperti itu. Layaknya kuhormati keberadaan mereka, kuminta juga diperlakukan yang sama. Sambil berlatih kesabaran, aku belajar ketulusan. Saat dengan tegas meminta berhenti membully-ku lagi, kasih pun tak berkurang. Mungkin reaksi mereka bermacam-macam, aku harus mengerti.
Di era ini semua orang dituntut memiliki hati yang besar. Pergaulan mungkin menuntutmu lebih harus lebih asyik, lebih santai, nggak baper-an. Namun jangan ingkari hatimu, dia tahu batas dimana kau tak dapat menampungnya lagi. Anggap itu sebuah alarm, jangan abaikan. Jika kamu banyak membaca artikel orang-orang yang pernah mengalami bullying apapun bentuknya, belajarlah dari mereka dalam  mengelola emosi dengan baik. Kita mungkin akan kehilangan beberapa teman, tapi akan tergantikan. Satu hal yang akan kamu sadari, kita akan menjadi pribadi yang lebih tangguh! Karena kita memilih untuk bertindak tanpa melakukan pembalasan. Stop Bullying dari dalam dirimu sendiri.

Artikel Terkait