Loading...

Mitos Mitos Dalam Dunia Pendidikan

Opini 2 weeks ago
Mitos Mitos Dalam Dunia Pendidikan

Mitos Mitos Dalam Dunia Pendidikan

Oleh: Amri Ikhsan

Mitos berasal dari bahasa Yunani yaitu ‘mythos’ yang berarti ‘cerita’. yang bersifat suci dengan multi makna, sebuah kepercayaan (beliefs) yang dianut dan bersifat subjektif (Wikipedia dictionary, 2009).

Yero (2002a) mengungkapkan bahwa mitos adalah cerita yang secara sosial dan kultural dianggap sebagai ’realitas’ yang dibangun manusia dari waktu ke waktu. Ini dianggap ’benar’ sejauh hal itu mencerminkan dan diterima oleh kultur dari masyarakat tersebut. Mitos ini baru akan pudar, jika hal tersebut sudah dianggap tidak terlalu memiliki relevansi lagi dengan pengalaman kultural yang dialami masyarakat saat ini.

Dalam dunia pendidikan, dimana nilai-nilai, pandangan, persepsi dan praktek yang dianggap ’benar’ dan diyakini oleh masyarakat dan diterima secara sosial dan kultural, cenderung bertahan dan relatif sulit untuk diubah dengan cepat dan dapat menjadi ancaman terhadap adanya perubahan, karena dapat menimbulkan resistensi, dan dijadikan alasan untuk tidak melakukan perubahan yang positif.

Pertama, cara belajar yang terbaik untuk siswa adalah dengan duduk tegak dan menulis diatas meja. Padahal, penelitian menunjukkan bahwa ternyata siswa akan jauh lebih sukses dalam belajar jika kondisi ruangannya tidak terlalu formal dan ramah tubuh.

Ketika siswa duduk di kursi yang keras, kira-kira 75 persen dari berat badannya ditopang oleh tulang yang lebarnya hanya sepuluh sentimeter persegi, dan ini berdampak pada tekanan yang berat terhadap syaraf-syaraf tulang belang, akibat tekanan pada jaringan syaraf tulang belakang tersebut, akan menyebabkan seorang anak cepat merasa kelelahan, tidak nyaman dan sering mengubah-ubah posisi duduknya (Prashnig)

Kedua, yang harus belajar itu siswa, bukan guru. Padahal, tak hanya siswa, para guru juga sering tidak memahami apa yang diajarkan di depan kelas. Bukan siswa saja yang harus belajar, guru idealnya harus belajar lebih intens dari siswa, karena: 1) profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip profesionalitas; 2) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni; 3) kurikulum yang sering berubah, strategi metode, model, desain pembelajaran yang selalu berkembang.

Setinggi apapun pendidikan seorang guru, seberapa lamapun ia telah bertugas sebagai guru, tetap harus menyadari bahwa ilmunya masih belum seberapa. Sebanyak apapun ilmu yang telah ia miliki, masih jauh lebih banyak ilmu yang belum ia miliki.

Jika guru belajar, dia tidak kehilangan materi yang harus diajarkan. Guru dapat membantu memilah ilmu yang diberikan dengan leluasa dan memiliki banyak pilihan dalam proses pembelajaran.

Ketiga, kecerdasan intelegensi (IQ) sudah tetap dan tak mungkin berubah. Ini tidak benar. Tiap individu memilki kisaran IQ yang mungkin saja berubah tergantung stimulus yang mereka dapatkan dari lingkungan dan dari proses belajar. Ketika lingkungan yang menstimulasi dipadukan dengan kesempatan yang memadai untuk belajar, siswa akan dapat memaksimalkan kisaran IQ-nya (http://mypositiveparenting.org/)

Memang genetik anak diturunkan dari orang tuanya, tapi kecerdasan intelektual (IQ) anak juga bergantung pada nutrisi makanan, perlindungan dari racun, aktivitas bermain, berolah raga (kompas).

Keempat, guru adalah profesi pahlawan tanpa tanda jasa, Ungkapan ini memang terasa manis dan sebenarnya bermakna memposisikan guru sebagai profesi mulia. Akibat ungkapan tersebut ada kesan bahwa guru tidak terlalu membutuhkan imbalan dalam menjalankan profesinya. Jika ada guru yang menuntut perbaikan nasib (baca- gaji), dianggap guru itu tidak ikhlas. Padahal, guru juga manusia perlu ‘sesuatu’ untuk kehidupannya

Loading...

Begitu juga, ada yang mengatakan, guru tidak boleh berpolitik. Guru sebagai profesi harus menjunjung etika dan moral maka guru dilarang berpolitik. Ini didasari satu pandangan bahwa politik itu kotor dan berorientasi pada kekuasaan yang diasumsikan akan mengganggu konsentrasi guru dalam mendidik, maka dibuatlah kebijakan guru diharuskan menjauhi dunia inik. Padahal, semua kebijakan pendidikan adalah keputusan politik.

Kemudian, guru yang sudah mendapatkan TFG harus diberi beban kerja seberat beratnya. Padahal, ini sering mengganggu konsentrasi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran berkualitas. Percaya tidak percaya, ada sekitar 37 administrasi guru yang harus disiapkan guru (www.eduinspirasi.com), belum termasuk surat surat keterangan ini, surat pernyataan itu yang harus ditanda tangani pejabat. Belum lagi soal persyaratan pencairan yang begitu ketat: mengajar 23,9 jam per minggu dipastikan tidak dapat TFG, dll.

Padahal, mendidik itu perlu konsentrasi, perlu berpikir kritis dan bertindak kritis. Kalau guru dibebani ‘segudang’ beban kerja, niat untuk menciptakan pendidikan berkualitas tidak akan tercapai secara optimal.

Kelima, sekolah terbaik adalah sekolah favorit dan berada dikota. Sekolah yang bagus. Guru-gurunya bagus, fasilitas dan manajemen sekolahnya juga bagus. Sekolah ini diminati banyak orang. Mereka bersaing sesama anak pintar, memicu motivasi tinggi. Tentu tak ada yang salah dengan hal-hal baik berkumpul menghasilkan yang baik-baik.

Yang salah adalah ketika kita menganggap sekolahlah yang bertanggung jawab atas pendidikan siswa. Padahal, pendidikan adalah soal menggali potensi setiap orang secara unik, mengubahnya menjadi kinerja secara optimal, untuk mencapai sukses. Pendidikan adalah soal usaha setiap orang. Itulah yang membuat orang-orang yang tidak berasal dari sekolah favorit pun bisa sukses. Itu pula yang membuat tidak sedikit lulusan sekolah favorit tidak sukses.

Sekolah favorit hanya menyediakan peluang untuk sukses. Ia tak menjamin. Jaminan sukses terletak pada usaha setiap siswa. Banyak pihak yang menganggap pendidikan bisa diserahkan 100% ke sekolah. (Abdurrakhman)

Keenam, yang wajib menulis itu dosen bukan guru. Menulis sering dipersepsi oleh banyak orang khususnya guru sebagai suatu yang mustahil untuk dilakukan. Sering muncul persepsi: saya mau menulis, tetapi bagaimana caranya? Saya mau menulis tetapi waktu saya habis untuk mempersiapkan pembelajaran dan memeriksa tugas anak-anak”, atau berbagai alasan lainnya yang menunjukkan bahwa menulis dipersepsi sebagai pekerjaan maha berat.

Padahal, menulis adalah anugrah Tuhan yang diberikan kepada setiap manusia. Sepanjang manusia bisa berpikir, sepanjang itu pula dia bisa menulis. Menulis tidak ada hubungan dengan profesi, waktu atau kesibukan. Menulis adalah kemauan.

Ketujuh, jurusan IPA lebih bergengsi daripada jurusan IPS. Jurusan IPA memang sering dipandang hebat dibanding dengan jurusan IPS. Kerap siswa yang nilai akademisnya bagus ‘dipaksa’ masuk jurusan IPA padahal mungkin dia berminat di jurusan IPS. Sebaliknya, siswa yang nilai akademiknya kurang bagus dianjurkan masuk IPS. Sistem klasifikasi sepihak ini tidak adil, padahal seharusnya siswa diberikan kebebasan untuk menentukan minat mereka selain melihat nilai akademis.

Ada juga hal kecil yang sering terjadi disekolah: 1) penilaian terhadap kelayakan sekolah cukup dilakukan selama setengah hari, padahal sekolah menilai siswa perlu waktu 3 (tiga) tahun; 2) gurulah yang bertanggung jawab terhadap kegagalan siswa, semua pihak menyalahkan guru padahal guru dibina, dibimbing oleh pengawas, stakeholder di Dinas Pendidikan, dll. Tapi, kalau siswa berhasil, semua pihak mengklaim itu keberhasilan ‘mereka’.

Begitu juga, guru hebat adalah guru yang sering ikut pelatihan. Padahal, tidak semua pelatihan itu kamportabel dengan bidang yang diajarkan guru. Hanya pelatihan guru yang menekankan pada penguasaan pembelajaran yang mencakup: pemahaman, aplikasi, dan penalaran akan berpotensi sukses dalam proses pembelajaran.

Itulah pendidikan kita, siapa kita? Indonesia.

Tags: Mitos, Pendidikan

Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia, kira kira seperti apa ? Yuk simak artikelnya

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.