Loading...

Peduli Bangsa Lewat Pilkada

Opini 6 months ago
Peduli Bangsa Lewat Pilkada

Pilkada serentak sudah berada di depan mata. Pesta demokrasi itu akan digelar pada tanggal 27 Juni di 171 daerah di Indonseia. Pada Pilkada tahun ini, terdapat 17 provinsi, 39 kota, dan 115 kabupaten yang akan terlibat dan menjadi saksi sejarah perkembangan bangsa Indonesia di masa depan.

Dalam tradisi perpolitikan Indonesia, Pilkada menjadi momentum bagi masyarakat untuk menyuarakan hak pilihnya dan menentukan calon pemimpin daerah di masa depan. Tentunya semua masyarakat menginginkan pemimpin yang berkualitas, berintegritas, dan mampu mengayomi rakyatnya. Sosok wakil rakyat yang peduli dan mau mendengarkan keluhan rakyatlah yang diidam-idamkan untuk menjadi kepala daerah.

 

                                                       

Dengan ini, maka hak pilih masyarakat sangat menentukan nasib bangsa Indonesia ke depannya. Itu artinya Pilkada harus dimanfaatkan sebaik-baiknya sebagai wahana untuk menyaring dan menyeleksi pemimpin yang berkompeten. Melalui Pilkada, masyarakat berpeluang membawa perubahan yang lebih baik untuk negeri ini.

Kendati demikian, tidak semua masyarakat Indonesia peduli dan bersimpati demi kemajuan daerahnya masing-masing. Sebagian dari mereka ada yang acuh dan tidak mau berkontribusi dalam Pilkada. Mereka itulah yang sering disebut sebagai golongan putih, atau biasa dikenal dengan golput. Pada saat Pilkada berlangsung, mereka tidak memilih siapa pun atau tidak menggunakan hak pilihnya.

Tingginya Angka Golput

Golput memang menjadi permasalahan serius di negeri ini. Berdasarkan hasil quick count (hitung cepat) pada Pilkada 2015, angka golput di sejumlah daerah masih tinggi. Sebut saja di sebagian besar pulau Jawa. Berdasarkan data dari Lingkar Survey Indonesia (LSI), jumlah pemilih di Malang yang datang hanya 57,6 persen, sedangkan yang golput sebanyak 42,4 persen. Begitu juga dengan di Kediri, jumlah masyarakat yang berpastisipasi hanya 56,3 persen saja.

Tidak hanya itu, LSI juga mencatat bahwa di Indramayu, kontribusi masyarakat terhadap Pilkada 2015 juga rendah, yaitu 59,8 persen. Bahkan di beberapa daerah ditemukan kalau angka golput hampir 50 persen lebih dari daftar pemilih tetap (DPT). Selain itu, KPU pusat sendiri menyebutkan, rata-rata masyarakat yang berpartisipasi dalam Pilkada serentak 2015 mencapai 73,22 persen.

Loading...

Banyaknya masyarakat yang golput itu pun dapat menodai proses Pilkada pada tahun ini. Bagaimana tidak, hak pilih yang disia-siakan masyarakat pasti mempengaruhi siapa yang nantinya bakal menjadi kepala daerah. Dalam hal ini, satu suara masyarakat saja mempunyai nilai yang sangat penting dalam perolehan suara. Jika banyak masyarakat yang golput, tentunya hal itu akan berpengaruh besar terhadap terpilihnya calon pemimpin. Dan apabila yang terpilih adalah pemimpin yang tidak mempunyai jiwa kepemimpinan, pasti nanti akan menimbulkan dampak yang buruk bagi bangsa ini.

Kurang Mengenal

Dalam kejadian pada tahun-tahun sebelumnya, ada beberapa hal yang menjadi faktor tingginya angka golput. Faktor utama yang melatarbelakangi rendahnya partisipasi masyarakat adalah penyuluhan, sosialisasi, dan regulasi dari KPU. KPU sebagai lembaga yang menangani Pilkada, dirasa kurang efektif dan efisien dalam pengelolaannya.

Penyebab lain yaitu minimnya kampanye dari para calon kepala daerah kepada masyarakat desa. Kampenye sendiri merupakan suatu hal penting untuk memperkenalkan diri kepada rakyat. Namun dominasi kampanye di perkotaan menyebabkan masyarakat desa tidak mengenal calon pemimpinnya. Sehingga masyarakat desa mengaanggap calon kepala daerah tidak peduli dengan orang-orang desa hingga akhirnya tidak mau menggunakan hak pilihnya pada saat Pilkada.

Selain faktor tersebut, akses menuju Tempat Pemilihan Umum (TPU) yang cukup jauh menjadikan masyarakat malas untuk bergerak. Hal ini sering terjadi di desa-desa pelosok yang jauh dari perkotaan. Bagi masyarakat yang jauh dari TPU, mereka akan berpikir dua kali kalau ingin menyoblos. Kalau pun calon pemimpin yang ia pilih resmi menjadi kepala daerah, dia sendiri akan beranggapan bahwa masyarakat desa akan diduakan dalam hal pembangunan infastrukturnya. Maka mereka menyimpulkan bahwa tidak ada perubahan di desa yang akan terjadi, meskipun pemimpinnya sudah berganti.

Tindakan golput mengindikasikan bahwa masyarakat Indonesia kurang begitu antusias terhadap pesta demokrasi di negeri ini. Sikap apatis inilah yang menjadi penyebab sulitnya memiliki pemimpin idaman. Padahal, pemimpin merupakan komponen terpenting dalam suatu daerah demi terciptanya kemajuan, kemakmuran, dan kesejahteraan masyarakat.  Namun apabila masyarakat tidak mau memilih calon pemimpin, maka itu tandanya mereka tidak mau berjuang dalam memajukan daerahnya.

Pada dasarnya, Pilkada merupakan suatu tonggak penting untuk revolusi bangsa yang lebih baik lagi. Demi kemajuan bangsa, semua masyarakat yang mempunyai hak pilih harus berpartisipasi dalam Pilkada tahun ini. Kita semua pasti berharap tidak akan ada seorang pun yang golput. Karena satu suara saja sangatlah berguna bagi bangsa Indonesia selanjutnya. Dengan begitu, jika Anda peduli dengan bangsa ini, masihkahkah Anda mempunyai niat untuk golput? 

Tags: #pemimpin, #anakmuda, Pilkada

Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia, kira kira seperti apa ? Yuk simak artikelnya

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.