Fakta Sejarah Tentang Jepang
Tapi jauh sebelum semua itu terjadi, Jepang memiliki cerita sejarah yang sangat unik dan menarik untuk di perbincangkan. Selain dua kotanya yang di bom oleh tentara sekutu yakni Hiroshima dan Nagasaki, masih ada fakta lainnya yang belum banyak di ketahui orang. Berikut adalah fakta sejarah tentang Jepang.

Sekarang ini, Jepang termasuk ke dalam negara adidaya yang memiliki segala kemajuan baik dalam teknologi maupun sumber daya manusianya. Tapi jauh sebelum semua itu terjadi, Jepang memiliki cerita sejarah yang sangat unik dan menarik untuk di perbincangkan.

Selain dua kotanya yang di bom oleh tentara sekutu yakni Hiroshima dan Nagasaki, masih ada fakta lainnya yang belum banyak di ketahui orang. Berikut adalah fakta sejarah tentang Jepang.

Dulu makan daging di Jepang merupakan suatu tindakan ilegal

Dimulai pada pertengahan abad ke-tujuh, pemerintah Jepang mengumumkan larangan makan daging yang berlangsung selama lebih dari 1.200 tahun. Mungkin dipengaruhi oleh ajaran Buddha yang melarang mengambil nyawa, Kaisar Tenmu mengeluarkan dekrit pada tahun 675 yang melarang makan daging sapi, monyet, dan hewan domestik dengan ancaman hukuman mati.

Kontak dengan misionaris Kristen mulai mempopulerkan makan daging lagi di abad ke-16. Meskipun larangan lain diproklamasikan pada tahun 1687, beberapa orang Jepang terus makan daging. Lalu pada tahun 1872, pemerintah Jepang telah resmi mencabut larangan dan bahkan kaisar sendiri telah menjadi pemakan daging.

Kabuki diciptakan oleh seorang wanita crossdressing

Kabuki, adalah salah satu ikon budaya yang paling terkenal di Jepang. Kabuki merupakan bentuk warna-warni tari teater di mana kedua karakter antara laki-laki dan perempuan yang dimainkan secara eksklusif oleh laki-laki. Pendiri Kabuki adalah Izumo ada Okuni, seorang pendeta yang menjadi terkenal karena menampilkan tarian dan sandiwara sementara berpakaian sebagai seorang pria.

Perempuan Kabuki seperti yang dikenal oleh banyak orang, sangat populer sehingga penari tersebut diundang oleh Daimyos untuk manggung pribadi di istana mereka. Sejumlah orang menikmati bentuk seni baru yang terlihat vulgar itu, namun pemerintah tidak menyukainya. Pada tahun 1629, setelah kerusuhan terjadi di pameran Kabuki, Kyoto, wanita dilarang untuk manggung. Kemudian aktor laki-lakilah yang mengambil peran sebagai perempuan.

Pedang Samurai kadang diuji untuk menyerang orang yang lewat

Pada abad pertengahan di Jepang, akan dianggap tidak terhormat jika pedang samurai tidak bisa memotong tubuh lawan dalam satu tebasan. Itu penting oleh karena itu untuk mengetahui kualitas senjata pada setiap pedang baru, maka harus diuji terlebih dahulu sebelum membawanya ke medan pertempuran. Samurai biasanya di gunakan untuk memotong tubuh penjahat. Tapi ada metode lain yang disebut tsujigiri, di mana targetnya adalah orang yang berjalan di persimpangan pada malam hari.

Tapi itu menjadi masalah sehingga pemerintah merasa perlu untuk melarang tindakan tersebut pada tahun 1602. Salah satu laporan dari era Edo (1603-1868), menggambarkan tahun-tahun awal periode dan mengklaim bahwa orang tewas dalam tsujigiri hampir setiap malam terjadi.

Tentara Jepang memotong telinga dan hidung musuh untuk dijadikan piala perang

Di bawah pemimpin legendaris Toyotomi Hideyoshi, Jepang menginvasi Korea sebanyak dua kali yakni antara 1592 dan 1598. Meskipun Jepang akhirnya menarik pasukannya dari negara itu, invasi yang sangat brutal itu menelan korban tewas mungkin berjumlah satu juta orang Korea.

Selama masa invasi, tidak biasa bagi prajurit Jepang untuk mengambil kepala musuh mereka sebagai piala perang. Pengiriman begitu banyak kepala untuk di bawa kembali ke Jepang akan sulit, untuk itu maka tentara Jepang mengambil telinga dan hidung musuh mereka. Saat kembali Jepang, mereka mendirikan monumen untuk mengenang piala mengerikan tersebut.

Baca Juga: 6 Sosok Panglima Perang Umat Islam Yang Berpengaruh Di Dunia

Lebih dari 200 siswi SMA Jepang dimanfaatkan sebagai perawat dalam pertempuran Okinawa

Pada bulan April 1945, Sekutu melancarkan invasi mereka di Okinawa. Pertumpahan darah selama tiga bulan menewaskan lebih dari 200.000 orang, 94.000 di antaranya adalah warga sipil Okinawa. Di antara orang mati warga sipil adalah kelompok siswi Himeyuri, terdiri dari 200 siswi antara usia 15 sampai 19 tahun yang telah dipaksa oleh tentara Jepang untuk bekerja sebagai perawat selama pertempuran. Pada awalnya, gadis-gadis Himeyuri bekerja di sebuah rumah sakit militer.

Tapi mereka dipindahkan ke gua. Mereka membantu tentara Jepang untuk melakukan amputasi, dan mengubur mayat-mayat. Meskipun orang Amerika sudah maju, gadis-gadis diberitahu untuk tidak menyerah. Sebaliknya, mereka disarankan untuk bunuh diri dengan granat tangan. Dalam satu insiden yang dikenal sebagai "gua dari perawan", 51 gadis yang tewas di temukan setelah gua tersembunyi itu dikupas. Setelah perang, sebuah monumen dan museum dibangun untuk mengenang anak-anak Himeyuri.

Itulah sepenggal cerita fakta sejarah tentang Jepang.

Artikel Terkait