close
Inilah Beberapa Taktik Perang Psikologi Yang Sering Di Gunakan Pada Jaman Kuno
Peperangan juga membutuhkan sebuah taktik atau strategi untuk memenangkan perang tersebut meskipun pada akhirnya tidak sesuai dengan rencana. Tapi apapun hasilnya nanti, sebelum memulai perang baik komandan ataupun pemimpin perang harus mempunyai sebuah taktik. Dan inilah beberapa taktik perang psikologi yang sering di gunakan pada jaman kuno.

Peperangan adalah suatu tindakan dimana suatu golongan atau bangsa ingin mendapatkan keadilan, pembelaan atas bangsanya sendiri, atau bahkan menguasai suatu wilayah musuh. Dalam suatu peperangan, pasti akan banyak memakan korban jiwa baik yang menjajah maupun yang dijajah. Peperangan juga membutuhkan sebuah taktik atau strategi untuk memenangkan perang tersebut meskipun pada akhirnya tidak sesuai dengan rencana.

Tapi apapun hasilnya nanti, sebelum memulai perang baik komandan ataupun pemimpin perang harus mempunyai sebuah taktik. Dan inilah beberapa taktik perang psikologi yang sering di gunakan pada jaman kuno.

Peluit Kematian Suku Aztec

Peluit kematian suku Aztec terdengar seperti “jeritan 1.000 mayat”. Dua puluh tahun yang lalu, arkeolog menggali dua instrumen yang berbentuk tengkorak itu di Meksiko. Mereka mencengkeram tangan seorang pria yang akan di korbankan pada kuil dewa angin. Peluit ini digunakan dalam ritual dan juga perang. Peluit ini juga sangat jarang di gunakan, tapi saat di bunyikan suaranya hampir seperti suara teriakan manusia yang kesakitan. Sebelum perang di mulai, suara peluit yang di bunyikan tersebut akan membuat musuh menjadi ketakutan. Beberapa ahli percaya bahwa peluit kematian ini memungkinkan siapapun yang mendengarnya akan mengalami keadaan tidak sadar. Bahkan peluit ini juga sering di gunakan oleh tabib suku Aztec dalam kegiatan penyembuhan.

36 Siasat

36 siasat adalah sebuahkoleksi kuno perbahasa Cina dalam hal perang. Sebagian besar di dasarkan pada seni penipuan dan menggunakan teknik-teknik psikologis untuk melemahkan kemauan musuh yang melawan. Hal ini merupakan bagian dari strategi serangan. 36 siasat ditemukan di Szechwan pada tahun 1941 melalui buku vendor. Penulis serta waktu di tulskan tentang buku tersebut masih belum di ketahui. Beberapa ahli melacak asal-usul buku tersebut dan menyatakan bahwa perang sendiri terjadi sekitar 403 sampai 221 SM. Bahkan beberapa peribahasa menyebut bahwa peristiwa tersebut terjadi sekitar tahun 35 SM.  

Taktik Teror dari Tamerlane

Lahir pada tahun 1336, Tamerlane adalah kepala suku Uzbek pada abad ke 14. Meskipun kelumpuhan yang menyerang separuh tubuhnya, tapi dia bisa menaklukkan Asia Tengah, sebagian besar duna Muslim, dan juga India. Legenda taktik teror dari Tamerlane sangat banyak. Sejarawan memperkirakan bahwa pasukannya membantai 17 juta orang atau 5 persen penduduk dunia pada saat itu. dia menjadi terkenal akan hal membangun sebuah piramida dengan tengkorak manusia yang berhasil di bantainya. Teknik ini dimaksudkan untuk menyebarkan ketakutan kepada siapa saja yang berani menentangnya. Ada pula yang mengatakan bahwa dia berhasil membantai 90.000 warga Baghdad, kemudian dia menggunakannya untuk membangun 120 piramida dengan tengkoral mereka. Tamerlane juga sempat mengalahkan Delhi sebagai pelajaran bagi India. Butuh waktu hampir satu abad bagi Delhi untuk bisa pulih dari kehancuran.

Vlad The Impaler

Vlad III (alias Vlad Dracula atau Vlad the Impaler) dalam sejarah adalah salah satu siswa yang paling mahir untuk hal perang pskologis. Pada abad ke 15, Pangeran Romania ini menghabiskan sebagian besar masa mudanya sebagai sandera politik utsmani. Meskipun di perlakukan dengan baik, Vlad tetap merasakan kebencian pada penculiknya. Beberapa spekulasi menduga bahwa Ottoman bahkan mengajarinya metode favorit perang psikologis. Pada tahun 1462, Sultan Mehmet II menyerang wilayah Vlad. Setelah memasuki ibukota, sultan di sambut dengan mayat tawanan perang Ottoman yang bertebaran. Vlad terpaksa harus mencari cara dalam pertempuran meskipun dengan sumber daya yang terbatas. Perang psikologi menjadi solusinya, dan mungkin sepertinya memang tampak kejak. Tapi taktik perang seperti itu adalah cara yang efektif guna melawan kekuatan yang jauh lebih besar dari dirinya sendiri.

Philip II dari Macedonia

Philip II dari Macedonia naik tahta pada tahun 359 SM. Macedonia merupakan sebuah tempat terpencil yang tidak diinginkan orang asing. Dalam waktu kurang dari satu tahun, Philip membatalkan semua ancaman internal dan mengatur Macedonia untuk menjadi negara Adidaya. Dia adalah masternya dalam hal perang psikologis. Ketika melakukan pertempuran dengan Liga Chaldician, Philip menghancurkan kota Stagirus. Kota-kota di Chaldician menyerah tanpa perlawanan. Selama pertempuran Chaeronea di 338 SM, Philip menggunakan dua strategi perang psikologi. Pertama dia memaksa para pemberontak Athena dan Thebes untuk menunggu di bawah terik matahari agar mereka mengalami kebosanan. Kemudian dia membuat serangan palsu, yang akan menarik musuh menuju garis depan. Perlahan-lahan dia akan menyerang dari belakang.

Baca Juga: Fakta Tentang Chirstoper Columbus yang Tidak Dituliskan di Buku Sejarah

Kejeniusan dari Genghis Khan

Teror merupakan alat terbesar dari Genghis Khan. Dia menghancurkan kota yang menentangnya. Selama pengepungan Merv, tiap prajurit Mongol diperintahkan untuk memenggal kepala 400 penduduk sebelum membakar kota tersebut. Korban tewaspun meningkat sepuluh kali lipat. Genghis Khan terkenal akan ukuran pasukannya. Masing-masing prajuritnya diharuskan menunggang kuda. Ketika dia menyerang Samarkand dan Eropa, dia mencegah musuh mengetahui taktiknya. Tapi tanpa gagal, Genghis Khan selalu tahu banyak tentang musuh-musuhnya berkat taktik penyamarannya.

Itulah beberapa taktik perang psikologi yang sering di gunakan pada jaman kuno.

Loading...
Artikel ini di tulis oleh Nur Ismiyanti kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang

Artikel Terkait