5 Pengalaman Hidup Seno Gumira di Korea Utara - Vebma.com
5 Pengalaman Hidup Seno Gumira di Korea Utara
Korea Utara bisa disebut sebagai satu-satunya negara komunis yang tersisa di dunia.

Korea Utara bisa disebut sebagai satu-satunya negara komunis yang tersisa di dunia. Banyak sekali rasa penasaran seperti apa kehidupan sehari-hari masyarakatnya. Apakah mereka bahagia? Apakah orang kaya di sana juga punya iPhone, PS4, Lamborghini? Apakah mereka juga mendengarkan Ed Sheeran, Dua Lipa, Coldplay? Tentu ini pertanyaan yang sulit dijawab mengingat negara ini mengisolasi diri sendiri. Untuk itu, orang luar yang berhasil masuk ke sana pasti akan memiliki pengalaman yang menarik. Salah satunya adalah Seno Gumira Ajidarma, wartawan "cum" sastrawan pada tahun 2002. Berikut potongan ingatannya dalam buku "Jejak Mata Pyongyang" selama berada di Korea Utara.

1. Makan di Restoran tanpa Memilih

sumber: Reuters

"Punya menu?" tanya Seno pada seorang pelayan. Pertanyaan itu tak terbalas. Malah, pelayan tersebut mendatanginya, tanpa senyum, lalu memberinya sumpit. SI pelayan tak berkata apa-apa. Restauran sangat sepi, tak ada pengunjung selain dirinya. Selang beberapa lama, muncullah pelayan tadi membawa kimchi. Beberapa saat kemudian muncul makanan lainnya. Yang unik adalah makanan ini tidak dipesan. Disajikan (diberikan) begitu saja, tanpa bertanya mau makan lagi atau sudah selesai. Bisa ya kayak gitu?

2. Fashion di Pyongyang

sumber: The New York Times

Seno mengamati bahwa penampilan masyarakat di sana sungguh seragam. Baik lelaki maupun perempuan hampir selalu pakai atasan putih dan berlengan pendek. Ini juga terjadi pada rok, celana, hingga potongan rambut. Selain warna putih, busana hanya berwarna coklat tua, abu-abu, biru tua, hingga hitam. Warna-warna semarak baru akan muncul ketika acara seni-budaya digelar.

3. Cinta yang diarahkan

sumber: New York Post

Berlaku sebagai juri festival film, Seno juga menonton film buatan Korea Utara yaitu Soul Protest (Kim Chung Song, 2002). Dari penilaian Seno, tergambar bahwa di negara ini, atau mungkin di negara komunis lain, cinta juga diarahkan oleh negara. Kisah cinta-romantik antara dua manusia harus tidak boleh lebih dari cinta-patriotik pada negara. Ini berarti tidak boleh ada ungkapan seperti, "nikahi aku, Fahri!".

4. Perpustakaan "canggih" berisi buku apa saja

sumber: IBTimes UK

Ketika Seno diajak tur berkeliling negeri, tibalah dia pada sebuah perpustakaan. Oleh penerjemahnya, Seno diminta untuk menanyakan buku apa saja dari Indonesia maka buku itu akan keluar sendiri dalam satu menit. Seno kemudian meminta buku langka Marsania karya Marsan. Kurang dari satu menit, sebuah buku muncul dari ban berjalan. Isinya? Sebuah terbitan lama tentang pembudidayaan ubi. Keren?

5. Uang yang tak berguna

Sebuah cafe untuk kalangan atas yang baru muncul beberapa tahun belakangan. Sumber: The Japan Times

Segala sesuatu di Korea Utara hanya bisa didapatkan dengan kupon, bukan uang. Hal ini disadari Seno ketika melihat lengangnya kota. Tidak ada toko, kios majalah, cafe, atau bahkan penjual rokok. Jika jalan-jalan ke Korea Utara, membelanjakan uang itu sungguh tidak mungkin. Seno bahkan meragukan jika pun ada, kecil kemungkinan pembeli bakal dilayani.


sumber foto cover: Business Insider

Artikel ini ditulis oleh Inang Jalaludin kamu juga bisa menulis karyamu di Vebma, dibaca jutaan pengunjung, dan bisa menghasilkan jutaan rupiah setiap bulannya. Daftar Sekarang!
Loading...