Pesona Alam di Gunung Papandayan Garut

15-09-2016 (2 months ago)

Gunung Papandayan menjadi cagar alam sejak tahun 1924 dengan luas 884 Ha. Selain terkenal dengan panorama alam, keindahan kawah dan pemandangan matahari terbit yang memikat, juga dikenal dari kondisi gunungnya yang dapat digunakan untuk sumber ilmu pengetahuan dan penelitian.

Taman Wisata Alam Kawah Papandayan merupakan salah satu dari ribuan keindahan alam di Indonesia. Gunung Papandayan dengan ketingian 2665 mdpl ini, terkenal memiliki jalur pendakian yang cocok untuk para pendaki pemula. Waktu yang tepat untuk mendaki gunung ini sampai pertengahan bulan September. Gunung Papandayan berlokasi di kecamatan Cisurupan, kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia.  

Beberapa spot terkenal di Taman Wisata alam kawah Papandayan yang patut dikunjungi saat mendaki di gunung Papandayan.

Kawah Papandayan (atau Kawah Mas)

Perjalanan akan di mulai dengan terlihatnya kawah Papandayan. Jalan setapak menanjak dan bebatuan akan dilalui sebelum menuju kawah Papandayan ini. Tercium gas belerang pertanda kawah Papandayan sudah dekat lalu akan terlihat kepulan asap gas belerang tersebut, sebaiknya para pendaki memasang masker saat melewati kawah ini karena gas belerang tidak baik untuk kesehatan jika dihirup dalam jumlah banyak.

Tebing Soni

Pada sebelah kanan dari Kawah Papandayan terdapat sebuh tebing yang menjulang tinggi, yang dinamakan Tebing Soni. Sekitar 10 sampai 20 menit untuk melalui Tebing Soni, saat sampai diatas akan terlihat Hutan Mati yang tidak jauh dari sana. Tebing Soni menjadi jalur yang lebih pendek bagi para pendaki yang ingin menuju ke Hutan Mati terlebih dahulu lalu baru menuju ke Pondok Saladah.

Pondok Saladah


Kalian akan melihat banyak tenda-tenda terpasang di Pondok Saladah. Tempat perkemahan yang digemari para pendaki untuk memasang tenda dan beristirahat disini. Setalah melewati Lawang Angin kalian akan tiba di Pondok Saladah, siang hari menjelang sore sekitar dua jam perjalanan. Sebelum meletus pada tahun 2002, Pondok Saladah bisa dicapai menggunakan mobil melalui jalan besar namun jalan tersebut tertutup longsoran yang terjadi pada tahun 2002 tersebut.

 Udara mulai terasa dingin di Pondok Saladah, jangan lupa untuk menyiapkan baju hangat dalam jumlah banyak karena pada malam hari akan terasa lebih dingin lagi. Di Pondok Saladah, tersedia tempat untuk mandi dan buang air kecil/besar dengan air yang jernih sekali. Kalian akan bertemu para pendaki lainnya disini, saatnya untuk bertukar cerita dan pengalaman. Disini kalian akan menemukan bunga Edelweis, namun tidak sebanyak di Tegal Alun.

Hutan Mati


Tidak jauh dari Pondok Saladah, akan ditemui Hutan Mati. Lokasi yang terkenal bernuansa mistis dengan banyaknya pohon-pohon kering. Hutan Mati terbentuk setelah letusan pada tahun 2002, akibat abu vulkanik pohon rimbun yang tumbuh disana menjadi mati dan tidak tumbuh lagi.

Di Hutan Mati, saatnya kalian mengeluarkan kamera karena selain pemandangan pohon kering, disini juga dikenal sebagai tempat memburu matahari terbit bagi para pendaki. Tidak heran banyak yang menuju Hutan Mati saat sebelum matahari terbit. Kalian akan melihat pemandangan sunrise dengan kabut berwarna putih dan terlihat pemandangan siluet dari gunung Cikuray.

Danau Papandayan

Danau yang jarang terlihat bagi pendaki, terletak tepat di bawah Hutan Mati. Danau ini bisa terlihat dari Hutan Mati, untuk menuju ke sana dari Camp David atau Kawah Papandayan ikuti jalur yang berada di sebelah kiri jalur utama kemudian akan terlihat asap yang mengepul dari kejauhan, disanalah letak Danau Papandayan ini.

Tegal Alun

Bunga abadi, sebutan terkenal untuk bunga Edelweis (anaphalis javanica), yang akan kalian temukan di Tegal Alun. Kebun bunga Edelweis adalah tujuan selanjutnya setelah Hutan Mati. Jalur yang dilewati berupa tanjakan, membutuhkan tenaga kuat untuk melaluinya. Akan lebih mudah jika cuaca tidak hujan, karena jalur yang tergenang air dan basah cukup sulit untuk dilalui bagi pendaki, apalagi untuk pendaki pemula.

Jika musim kemarau,dianjurkan memasang masker karena jalanan menjadi berdebu. Ikuti jalurnya saja, kalian tidak akan tersesat disini karena banyak pendaki lainnya melewati jalur yang sama. Jangan lupa untuk saling menyapa, sopan santun dijunjung tinggi saat mendaki.

Kurang lebih setelah satu jam, kalian akan melihat hamparan bunga edelweis. Pemandangan ini terakhir terlihat pada September 2015, kebakaran besar yang pernah terjadi bulan Oktober 2016 membuat lebih dari setengah bunga Edelweis habis dilahap si jago merah.

Tegal Panjang

Lokasi yang jarang dimasuki oleh pendaki. Untuk memasuki kawasan ini, kalian harus memiliki SIMAKSI (Surat Ijin Masuk Kawasan Konversi) khusus dari BBKSDA Jawa Barat dan juga harus ditemani oleh guide lokal. Hamparan savana hijau menjadi pemandangan di Tegal Panjang.

Kalian akan menyadari savana di Indonesia tidak kalah indahnya dengan savana di luar negara Indonesia. Tegal Panjang di buka secara umum karena masih bayak tanaman dan hewan yang dilindungi. Macan tutul juga berkeliaran di Tegal Panjang, karena itu harus hati-hati jika kalian ingin memasuki area Tegal Panjang. Penduduk lokal menyebutnya Teretep/gympie-gympie (atau bahasa latinya Dendrocnide Moroides), tanaman yang tumbuh di Tegal Panjang dan memiliki racun moroidin. Jika tersengat duri yang terdapat di permukaan daunnya ini, akan terasa panas dan gatal serta membutuhkan waktu yang lama dalam penyembuhannya.

Puncak Papandayan

Puncak Papandayan bisa terlihat dari saat memulai pendakian di Camp David. Dari puncak ini akan terlihat pemandangan dari atas Tegal Alun, Pondok Saladah dan Kawah Papandayan. Namun ini bukan puncak tertinggi dari kawasan pegunungan Papandayan melain Puncak Gunung Malang, yang masih tertutup vegetasi lebat dengan ketinggian 2675 Mdpl.

Pemandangan Pondok Saladah dari Puncak Papandayan

Bagi pendaki pemula yang ingin mendaki gunung Papandayan ini, dibutuhkan juga tenaga fisik dan persiapan pendakian layaknya mendaki gunung pada umumnya. Walaupun medan yang dilalui tidak sesulit gunung lainnya, tapi kesehatan fisik selalu dibutuhkan saat mendaki untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Perjalanan menuju Gunung Papandayan, dari Jakarta di tempuh menggunakan bus menuju ke Terminal Guntur Garut. Kemudian dengan menggunakan minibus atau angkotan kota menuju ke pertigaan pasar Cisurupan.

Terakhir kendaraan yang digunakan berupa mobil pickup, mobil ini akan berjalan menunggu peuh terlebih dahulu jadi untuk kalian yang pergi dalam jumlah sedikit bisa menunggu pendaki lainnya untuk menaiki mobil pickup tersebut. Perjalanan yang cukup panjang akan terbayar dengan pemandangan indah di Papandayan. Jagalah kebersihan saat mendaki dan jangan memetik bunga edelweiss atau tanaman apapun disana. Jadilah seorang pendaki yang baik.

Bergabung jadi penulis

Bergabung bersama kami,tulis artikel,Share artikel anda,dapatkan penghasilannya

Buat Artikel