Hitler Pernah Tinggal di Linz

Wisata 11 months ago
Hitler Pernah Tinggal di Linz

Suatu siang tak terlalu cerah, saya berjalan sendirian menyusuri kota Linz yang sepi. Sehari sebelumnya, kami mendarat di Vienna International Airport. Hanya sempat keliling selama dua jam saja di airport untuk kemudian menumpang kereta ke Linz, si kota kecil yang camperenik (=cantik) ini.

Suami meeting dari sepagian, sementara saya bosan menunggu di hotel. Belum bisa kemana-mana, sebab kami membawa serta Baim yang kala itu masih dua tahun dan dengan kondisi tidak fit.

Sekitar jam dua siang, suami pulang, dan langsung saya minta ijin untuk jalan-jalan santai. "Gapapa? Sendirian?" Tanyanya.

Gapapa, jawab saya. Yakin.

Sambil nyari kebab, saya menambahkan.

Berbekal jaket tipis dan syal di leher, saya menapaki jalanan kota Linz. Rok saya berkibar-kibar diterpa angin. Suhu sekitar 15 derajat. Brr ...

Setelah belokan dari hotel, seorang lelaki berkulit gelap, berpeci tersenyum lebar dan berhenti di hadapan saya. Saya ikutan berhenti.

"Salamualaikum!" Katanya.

Saya jawab salamnya. Senang. Betapa sebuah sapaan penanda identitas menghampiri saya di kota ini, ribuan kilometer dari kampung halaman.

Bapak berpeci langsung nyerocos ngomong. Satupun saya tak paham.

"I am sorry. I don't speak German ..." saya menangkupkan kedua tangan di depan dada.

Ia mengangguk dan tersenyum. Kami masing-masing melanjutkan perjalanan.

Saya menyimpan catatan dalam hati, suatu hari harus menyempatkan belajar bahasa Jerman. Sebab hati saya masih ingin kembali ke kota itu.

Saya berjalan jauh, melewati rumah-rumah dan bangunan-bangunan. Inginnya berjalan perlahan, menikmati pelbagai pemandangan sambil cekrek sana cekrek sini, apa daya 15 derajat celcius membuat kulit rasanya kisut hingga langkah lebih terpacu. Baru saya mengerti, kenapa semua orang Eropa rata-rata berjalan dengan sangat cepat. Mungkin hanya musim panas yang sanggup membuat pace mereka melambat.

Saya temukan sebuah taman kecil. Diantara dua bangunan tinggi. Aaah ... luar biasa. Saat itu bulan April, musim semi baru saja dimulai. Bunga-bunga bermekaran dimana-mana. Dengan warna-warni yang tak pernah saya temukan di rumah.

Ada dua orang nenek sedang duduk mengobrol di bangku taman. Tergelitik saya ingin meminta tolong kepada mereka. Supaya bisa mengambil foto saya. Lumayan untuk bisa mejeng di Instagram.

Saya berdiri di hadapan mereka. Tersenyum dan mohon bantuan untuk mengambil foto saya. Sambil menyodorkan telepon seluler di tangan, tentu.

Mereka bengong sesaat. Duh, kendala bahasa ini bikin frustrasi. Saya ulangi permintaan saya disertai gesture.

Salah satu dari mereka menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.

"No! No photo! No English!"

Mukanya jadi jutek.

Ah, nek. Saya jadi patah hati. Urung sudah punya foto sendiri di taman yang bukan selfie.

Saya berjalan kembali. Sambil melihat-lihat barangkali ada orang lain yang bisa saya mintai tolong. Tak ada.

Loading...

Akhirnya saya nikmati taman itu saja. Mungkin sesorean itu, dalam cuaca cukup dingin itu, hanya dua orang nenek yang asik bergosip dan seorang emak-emak Asia saja yang sanggup keluar rumah.

Saya tiba di sebuah jembatan kecil. Di bawahnya terbentang Danau Danube, yang disebut sebagai danau kedua terpanjang di Eropa. Ia melintasi tak kurang dari 10 negara.

Melihat Danube, mungkin seharusnya saya mengingat sungai Cikapundung atau Citarum di kampung halaman. Membandingkan betapa tenang dan bersihnya Danube, tanpa tumpukan sampah sisa-sisa keseharian manusia.

Alih-alih, melihat tenang dan jernihnya air, saya malah memikirkan Hitler.

Adolf Hitler lahir di Branau am Inn di daerah perbatasan Austria dan Hongaria. Kemudian ia pindah ke Linz dan menghabiskan masa kecil hingga remajanya di sana.

Selepas mengunjungi Linz, saya pernah menuliskan catatan perjalanan yang saya beri judul, "Linz, kota yang aromanya seperti rumah."

Hingga hari ini, itulah yang terpatri dalam ingatan saya. Linz begitu tenang dan elegan. Orang-orangnya ramah meski tidak se someah orang Bandung.

Kota ini kecil, rapi, nyaman. Bikin betah untuk belajar dan membesarkan anak. Ia tidak hingar bingar seperti Paris, namun juga tidak senyap di atas maghrib seperti Wonosobo. Ia tenang, seperti perempuan usia awal 30 yang sudah melewati riuh rendah episode lulus kuliah, menikah, punya anak (Seksis banget ya saya).

Jadi, saat saya berdiri di jembatan kecil menatap Danube, saya tidak habis pikir. Mengapa Hitler, tinggal di kota senyaman ini, tumbuh menjadi pribadi yang begitu bengis hingga tega membantai jutaan jiwa?

Apa yang telah terjadi padanya?

Apakah ia korban bully di sekolah?

Apakah ia tipe lelaki yang cintanya selalu ditolak?

Apakah ia pernah dapat IPK kurang dari dua koma lima dan terancam DO?

Saya bisikkan semua pertanyaan saya ke Danau Danube yang terbentang jauh hingga ke Bucharest.

Kepada Christoph, rekan kerja suami di Linz, saya pernah bertanya,

"You know that Hitler was once lived here, don't you?"

Christoph adalah warlok nya Linz. Warlok = warga lokal.

"Yes, of course." Jawabnya.

Namun kemudian ia menambahkan sambil mengedikkan bahu.

"We're not proud of it, really."

Kasihan orang-orang Linz. Beruntunglah saya lahir di Cimahi, kota kelahirannya Sule yang selalu lucu dan disukai banyak orang.

Tags: Wisata, Traveling, Austria, Eropa, Perjalanan, Hitler

Loading...
10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia

10 Misteri Penampakan UFO Paling Menggemparkan Di Seluruh Dunia, kira kira seperti apa ? Yuk simak artikelnya

Mengenal Vebma

Apa itu Vebma? Vebma adalah sebuah media yang di peruntukkan untuk siapapun yang ingin menulis, membagikan ide, pengetahuan dan info apa saja untuk di ketahui umum umum.

Apa yang anda dapat?

Kamu akan di bayar untuk setiap View yang dihasilkan artikel yang kamu tulis.

Apa saja yang bisa kamu tulis?
Kamu bisa menuliskan apa aja yang ingin kamu ketahui dan kamu pelajari untuk kamu bagikan.

Advertiser
hello@vebma.com