close
Metuakan Sebuah Tradisi Kebersamaan di Bali
Di Indonesia khususnya di Bali ada sebuah tradisi untuk meningkatkan rasa kebersamaan yaitu metuakan. Orang Bali akan berkumpul dan menikmati tuak

Bali memang salah satu dari daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan. Bukan hanya keindahan alam dan budayanya namun juga tradisi. Adapun tradisi merupakan suatu kegiatan atau hal yang diwarisi secara turun temurun. 

Salah satu tradisi yang terkenal di Bali adalah metuakan. Tradisi metuakan merupakan tradisi masyarakat Bali biasanyakaum laki-laki yang berkumpul membentuk lingkaran atau pola yang lain kemudian menikmati minuman keras tradisional alami yaitu tuak. Dalam metuakan akan dipimpin oleh salah satu anggota kelompok yang melingkar. 

Pemimpin kelompok metuakan menuangkan satu gelas tuak dan diberikan kepada anggota lainya secara berurutan. Sembari minum, masyarakat berbincang bincang, tertawa,  bermain musik dan kegiatan lainya. Makanan ringan dan makanan khas Bali seperti sate , lawar dan lainya juga dapat dinikmati dalam tradisi metuakan Di tengah banyaknya minuman keras modern seperti vodka, whisky dan lainya  tuak merupakan minuman keras tradisional yang masih eksis dan populer di beberapa daerah di Indonesia khususnya di Bali. Hampir setiap sudut wilayah di Bali menjual tuak atau dikenal dengan namatra lau ini.

Tuak diperoleh dari pohon aren yang diambil niranya untuk difermentasi. Kadar alkoholnya sekitar 4 sampsi 10 %. Banyaknya pohon aren di Pulau Dewata ini membuat tuak sangat mudah dicari. Biasanya tuak sangat laris dicari menjelang hari raya di Bali. Metuakan merupakan tradisi yang sangat populer di Bali saat ini. Bahkan salah satu band Bali Maskepung membuat lagu dengan berjudul "tuak adalah nyawa". 

Dalam lagu ini memberi pesan bahwa tuak merupakan minuman keras tradisional favorit di Bali. Rasanya manis dan segar membuat hampir semua masyarakat Bali khususnya kaum laki-laki menyukai minuman ini. Lagu ini juga menyampaikan bahwa metuakan tidak selalu menyebabkan konflik atau kerusuhan. 

Memang jika tradisi ini tidak terkendali, akan menyebabkan mabuk berat dan dapat memicu pertengkaran, konflik dan berujung kerusuhan. Selain itu mengonsumsi tuak berlebihan juga tidak baik bagi kesehatan. 

Namun, tradisi metuakan merupakan tradisi yang dapat meningkatkan kebersamaan dan kerukunan. Dengan metuakan, masyarakat dapat berkumpul dan bergembira bersama. Terutama pada saat hari raya  masyarakat dapat menjalin silahturahmi dengan baik. Jika metuakan dapat terkendali tidak akan ada dampak negatif dalam tradisi ini.

Artikel ini di tulis oleh Putu Yoga Sadhu kamu juga bisa menulis karyamu di vebma,dibaca jutaan pengunjung,dan bisa menghasilkan juta rupiah setiap bulannya, Daftar Sekarang
Loading...

Artikel Terkait